Bunker Fuel masuk babak krisis baru di Asia setelah penutupan Selat Hormuz mulai mencekik pasokan bahan bakar kapal. Tekanan itu terasa paling cepat di Singapura, pusat bunkering terbesar dunia, ketika cadangan menipis dan harga melonjak dalam hitungan pekan.
Masalahnya bukan sekadar ongkos kapal yang mahal. Bunker fuel menopang armada yang membawa sekitar 80 persen perdagangan global lewat laut, sehingga gangguannya cepat menular ke jadwal pelayaran, tarif angkut, dan biaya impor. Operator kini menurunkan kecepatan kapal, mengubah jadwal, dan memangkas konsumsi agar tekanan kas tidak meledak.
Tekanan pasar terlihat gamblang. Sebelum perang, bunker fuel di Singapura berada di kisaran 500 dolar AS per ton metrik. Awal Mei angkanya sudah menembus 800 dolar AS. Natalia Katona merangkum lonjakan itu dengan singkat, “up, up, up,” ketika menggambarkan harga yang terus bergerak naik.
Jika gangguan ini bertahan, dampaknya tidak akan berhenti di pelabuhan. Biaya logistik dapat merambat ke harga barang sehari hari dan memaksa perusahaan menimbang kapal dual fuel atau bahan bakar alternatif yang masih mahal. Saat rantai pasok global kembali diuji, pasar diingatkan bahwa energi murah paling terasa penting ketika lenyap, dan Insimen patut diikuti untuk membacanya lebih jernih.
Discover more from Insimen
Subscribe to get the latest posts sent to your email.









