Nickel Corridor akhirnya bukan lagi jargon konferensi. Indonesia dan Filipina meresmikan kerja sama industri nikel lewat nota kesepahaman yang ditandatangani di Cebu antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia dan Philippine Nickel Industry Association. Langkah ini langsung penting karena dua negara tersebut bersama-sama menguasai 73,6 persen produksi nikel global pada 2025, menjadikannya poros baru yang sulit diabaikan industri baterai dan baja tahan karat.

Kesepakatan itu tidak dibingkai sebagai kerja sama antarpemerintah. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia lebih dulu menegaskan belum ada skema government to government antara Indonesia dan Filipina di sektor nikel. Namun justru di titik itu bobot beritanya muncul. Kerja sama business to business yang disaksikan langsung Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan serta Industri Filipina Cristina Roque memberi ruang gerak yang lebih cepat, tanpa menunggu traktat yang panjang dan rawan alot.

Isi MoU ini juga tidak berhenti pada perdagangan bijih. Kedua pihak memasukkan pertukaran informasi, pengembangan bersama teknologi hilirisasi, serta penguatan sumber daya manusia untuk menopang ekosistem nikel yang berkelanjutan. Bagi Indonesia, detail teknis ini krusial. Smelter dalam negeri membutuhkan campuran bijih dengan rasio silikon terhadap magnesium tertentu yang bisa dipasok Filipina. Artinya, isu feedstock yang selama ini sering jadi bottleneck hilirisasi kini mulai dicari pintu keluarnya secara regional.

Dari sisi nilai tambah, pesannya gamblang. Filipina didorong keluar dari posisi lama sebagai eksportir bahan mentah, sementara Indonesia ingin mengamankan suplai bagi industri baterai dan stainless steel yang sudah telanjur ekspansif. Airlangga menyebut ekspor produk nikel Indonesia tahun lalu mencapai 9,73 miliar dolar AS. Angka itu menjelaskan satu hal sederhana. Hilirisasi sudah terlalu besar untuk dibiarkan kekurangan bahan baku.

Kerja sama ini juga menyentuh lapisan yang lebih strategis. Indonesia memegang 44,5 persen cadangan nikel dunia, sedangkan Filipina punya pasokan hulu yang relevan untuk menutup kebutuhan teknis pemrosesan. Dalam konteks transisi energi, kombinasi ini membuat Asia Tenggara tidak lagi sekadar penonton di rantai pasok kendaraan listrik. Pemerintah Indonesia bahkan menautkan poros ini dengan target investasi 47,36 miliar dolar AS dan penciptaan 180.600 lapangan kerja hingga 2030.

Masih terlalu dini menyebut Nickel Corridor sebagai pemenang final dalam perebutan mineral kritis global. Tetapi arah permainannya sudah terlihat. Saat negara lain sibuk mengamankan bahan baku lewat diplomasi dagang, Indonesia dan Filipina mulai merakit blok pasoknya sendiri. Dalam bisnis mineral kritis, yang paling mahal sering kali bukan nikelnya, melainkan kepastian bahwa nikel itu benar-benar datang tepat waktu.


Eksplorasi konten lain dari Insimen

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Leave a Reply

Eksplorasi konten lain dari Insimen

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca