IHSG jatuh 2,86 persen ke 6.969,40 pada penutupan Jumat, 8 Mei 2026, setelah kombinasi sentimen global dan domestik mendorong investor menjauhi aset berisiko. Koreksi 204,9 poin itu menghapus optimisme pagi hari dan menandai betapa rapuhnya selera risiko ketika dolar AS kembali menguat, negosiasi AS dan Iran belum menemukan titik temu, dan rupiah ikut tertekan.

Tekanan di lantai bursa datang hampir dari semua arah. Sebanyak 607 saham melemah dan hanya 138 yang menguat. Sektor bahan baku ambruk 7,80 persen, energi turun 4,59 persen, dan transportasi melemah 5,72 persen. Sentimen paling berat menimpa emiten berbasis tambang setelah pemerintah mengusulkan skema royalti progresif baru untuk komoditas mineral utama, termasuk tembaga, emas, perak, dan timah, demi mengerek penerimaan negara.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai koreksi ini sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa global dan regional Asia. Ia menambahkan bahwa kebuntuan perundingan AS dan Iran serta pelemahan rupiah terhadap dolar AS ikut memperbesar tekanan. Dari sisi domestik, pasar juga mencerna cadangan devisa April yang turun menjadi 146,2 miliar dolar AS dari 148,2 miliar dolar AS pada Maret, meski Bank Indonesia menegaskan level itu masih setara 5,8 bulan impor.

Kombinasi geopolitik, dolar kuat, dan tekanan sektor komoditas membuat koreksi kali ini terasa lebih dari sekadar jeda teknikal. Selama arus modal asing belum benar benar kembali dan rupiah belum stabil, IHSG berisiko tetap mudah tergelincir setiap kali sentimen global memburuk. Pasar saham memang suka drama, tetapi pekan ini naskahnya ditulis terlalu rapi untuk diabaikan. Untuk membaca arah berikutnya dengan lebih jernih, pembaca bisa menjadikan Insimen sebagai rujukan wawasan.


Eksplorasi konten lain dari Insimen

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Leave a Reply

Eksplorasi konten lain dari Insimen

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca