NVMe sering jadi bahan obrolan karena banyak orang dengar istilah itu di dunia SSD, lalu menganggap iPhone otomatis punya storage paling ngebut. NVMe memang identik dengan jalur yang agresif buat akses data, terutama saat sistem perlu baca tulis cepat dan responsif dalam banyak antrean kerja sekaligus.

UFS di Android sebenarnya tidak kalah kelas, cuma lahir dari filosofi yang beda. UFS memang dirancang buat perangkat mobile dari awal, jadi fokusnya bukan cuma kencang, tapi juga efisien daya, stabil, dan gampang diintegrasikan ke banyak variasi chipset. Di atas kertas, angka kecepatan sekuensial sering jadi senjata marketing, tapi pemakaian harian lebih sering dipengaruhi random read, latency, dan cara sistem mengatur data kecil yang jumlahnya ribuan.

Advertisements

Efeknya baru kerasa kalau kamu lihat pola pemakaian yang real. Buka aplikasi berat, geser galeri ribuan foto, export video, atau mindahin file besar itu bukan cuma soal standar NVMe atau UFS. Yang paling menentukan itu kombinasi kontroler, kualitas NAND, firmware, file system, sampai manajemen panas. Saat suhu naik dan cache cepatnya habis, performa bisa turun, lalu orang menyimpulkan “storage jelek”, padahal yang terjadi adalah sistem lagi jaga stabilitas. Ada satu kalimat yang menurutku paling pas: “Yang terasa cepat itu implementasinya, bukan labelnya.”

Jadi kalau kamu lagi bandingin iPhone dan Android, jangan keburu menganggap NVMe pasti menang mutlak atau UFS pasti hemat tapi pelan. Kamu mending lihat rekam jejak optimasi pabrikan, kelas perangkatnya, dan kebiasaan kamu sendiri. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply