Korban Dukono bertambah menjadi tiga setelah tim penyelamat menemukan dua pendaki asal Singapura yang hilang sejak erupsi Gunung Dukono di Halmahera, Minggu, 10 Mei 2026. Dua korban itu ditemukan dekat lokasi seorang pendaki perempuan asal Indonesia yang sehari sebelumnya sudah lebih dulu dievakuasi dalam kondisi meninggal, menandai akhir tragis dari pendakian yang sejak awal sudah menabrak larangan keselamatan.

Rombongan berisi 20 pendaki naik ke gunung setinggi sekitar 1.355 meter itu pada Kamis, lalu terjebak ketika Dukono meletus pada Jumat pagi waktu setempat. Kolom abu dilaporkan membumbung hingga sekitar 10 kilometer dan aktivitas vulkanik terekam lebih dari 16 menit. Sedikitnya lima orang mengalami luka. Otoritas sejak sebelumnya sudah melarang aktivitas dalam radius 4 kilometer dari kawah, tetapi rombongan tetap masuk ke zona rawan.

Medan evakuasi menjadi sangat berat karena material vulkanik menimbun area sekitar kawah dan aktivitas gunung masih tinggi. Juru bicara BNPB Abdul Muhari mengatakan material di lokasi “sulit digali” sehingga tim harus bergerak sangat hati hati demi keselamatan petugas. Ketiga korban disebut berada sekitar 50 meter dari bibir kawah utama. Polisi setempat juga membuka penyelidikan atas dugaan kelalaian penyelenggara pendakian yang tetap membawa peserta ke kawasan terlarang.

Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa larangan di gunung api aktif bukan formalitas yang bisa dinegosiasikan di lapangan. Saat wisata ekstrem bertabrakan dengan peringatan vulkanologi, ongkosnya bisa berubah menjadi nyawa. Insimen melihat tragedi Dukono sebagai pengingat keras bahwa disiplin terhadap zona bahaya adalah batas paling dasar sebelum petualangan berubah menjadi bencana.


Discover more from Insimen

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Samuel Berrit Olam

Start your dream.

Leave a Reply

Discover more from Insimen

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading