Alphabet bikin pasar agak tegang pada Kamis, 5 Februari 2026, setelah perusahaan mematok belanja modal 2026 di kisaran US$175 miliar sampai US$185 miliar. Angka itu lebih tinggi dari perkiraan banyak pelaku pasar, dan saham Alphabet turun sekitar 3% menjelang pembukaan.

Masalahnya bukan karena kinerja kuartalan yang jeblok. Alphabet justru melewati ekspektasi laba dan pendapatan. Yang membuat orang mengernyit adalah tagihan investasi AI yang kelihatan makin tebal. Google Cloud ikut jadi sorotan setelah membukukan pendapatan US$17,7 miliar pada kuartal keempat, naik 48% dibanding setahun sebelumnya. Logikanya sederhana. Permintaan cloud untuk beban kerja AI sedang panas, dan Alphabet memilih menambah kapasitas lebih agresif.

Efek sampingnya terasa ke saham chip. AMD sempat naik tipis di prapembukaan setelah sehari sebelumnya ambruk 17% dalam penurunan harian terburuknya dalam lebih dari delapan tahun. Broadcom menguat, Nvidia ikut menguat, karena pasar membaca belanja AI Google sebagai bensin tambahan untuk penjualan chip berperforma tinggi. Di sisi lain, Arm melemah meski labanya lebih baik dari perkiraan karena proyeksi pertumbuhan pendapatan kuartal berikutnya melambat.

Advertisements

Sementara itu, Qualcomm jatuh tajam setelah panduan pendapatan kuartal berikutnya di bawah konsensus. Perusahaan menyebut ada tekanan pasokan memori dan “related pricing on demand from several handset customers.” Di papan lain, Bristol Myers Squibb menguat setelah kinerja kuartal keempat dan panduan setahun penuh melampaui ekspektasi. Align Technology melonjak, NIO menguat, Snap naik tipis, dan Amazon turun tipis menjelang laporan kinerja.

Pasar seolah bilang begini. AI memang masa depan, tapi tagihannya tetap harus masuk akal. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply