ASIC mendesak sektor keuangan Australia bergerak lebih cepat menghadapi gelombang ancaman baru dari AI Mythos. Regulator pasar dan jasa keuangan itu menilai model frontier seperti Claude Mythos kini bisa membantu penyerang menemukan celah keamanan dengan skala dan kecepatan yang jauh melampaui pola lama, sehingga ketahanan siber tidak lagi cukup diperlakukan sebagai urusan tim TI semata.
Dalam surat terbuka yang dirilis 8 Mei 2026, ASIC meminta seluruh pemegang lisensi dan pelaku pasar meninjau ulang rencana siber mereka, memperketat tata kelola risiko, melindungi aset paling kritis, menutup permukaan serangan, serta mempercepat penambalan sistem. Regulator juga menekankan bahwa dewan dan eksekutif harus ikut memimpin respons, karena ancaman baru ini menyentuh kewajiban inti perizinan, kesinambungan layanan, dan kepercayaan nasabah secara langsung.
Komisioner ASIC Simone Constant menyebut, “Cyber risk has entered a new era.” Pesan itu bukan sekadar alarm retoris. ASIC secara eksplisit mengaitkan peringatan baru ini dengan putusan pengadilan terbarunya terhadap FIIG Securities, yang memperkuat tuntutan agar kontrol risiko siber benar benar efektif dan sepadan dengan ukuran serta kompleksitas bisnis. Dengan kata lain, regulator tidak hanya meminta industri waspada, tetapi juga memberi sinyal bahwa pembelaan paling lemah nanti bukan kurangnya anggaran, melainkan kurangnya disiplin.
ASIC juga meminta perusahaan menyiapkan playbook insiden, mengawasi risiko pihak ketiga, dan memakai AI untuk pertahanan bila relevan. Nada pesannya jelas. Jangan tunggu sampai model makin pintar daripada prosedur internal Anda. Di era saat mesin bisa memburu kelemahan dalam hitungan menit, lambat merespons mulai terdengar seperti keputusan, dan itu layak dicatat oleh pembaca Insimen.
Discover more from Insimen
Subscribe to get the latest posts sent to your email.









