Investigasi X Prancis memasuki fase yang jauh lebih serius. Jaksa Paris membuka penyidikan yudisial terhadap platform X milik Elon Musk setelah probe yang semula menyorot dugaan penyalahgunaan algoritma dan data kini melebar ke distribusi materi pelecehan seksual anak, deepfake seksual nonkonsensual, dan konten penyangkalan Holocaust yang dikaitkan dengan Grok.

Langkah ini menempatkan hakim investigasi di pusat perkara dan membuka jalan bagi pemeriksaan formal terhadap X.AI Holdings, X Corp, xAI, Elon Musk, dan mantan CEO X Linda Yaccarino. Perkembangan itu datang setelah Musk gagal hadir dalam pemanggilan 20 April, menyusul penggeledahan kantor X di Prancis pada Februari dalam perkara yang sudah berjalan sejak Januari 2025. Salah satu pemicu pelebaran penyidikan adalah keluaran Grok berbahasa Prancis yang sempat menyebut kamar gas Auschwitz-Birkenau dibuat untuk disinfeksi sebelum kemudian dikoreksi.

Dampaknya jauh melampaui satu platform. Jika hakim menerima langkah jaksa, kasus ini bisa menjadi salah satu uji hukum paling keras di Eropa atas tanggung jawab perusahaan AI ketika chatbot memproduksi deepfake seksual, menyebarkan konten nonkonsensual, atau memberi ruang bagi distorsi sejarah yang dilarang hukum nasional. Tekanannya juga akan terasa pada hubungan Amerika dan Eropa yang sudah tegang soal Big Tech, moderasi konten, dan batas kebebasan berekspresi.

X belum memberi tanggapan segera atas perkembangan terbaru ini, sementara Musk sebelumnya menyebut perkara awal di Prancis bermotif politik. Bagi industri AI, sinyalnya terang. Fitur viral mungkin bisa dikejar cepat, tetapi pengawasan hukum kini berlari nyaris sama kencangnya, dan Insimen akan mencatat siapa yang lebih dulu kehabisan alasan.


Discover more from Insimen

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from Insimen

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading