ASEAN mulai menyusun bantalan energi regional setelah perang Iran memukul harga minyak, rantai pasok, dan rasa aman negara anggotanya. Dalam KTT di Cebu, para pemimpin Asia Tenggara menyepakati rencana darurat untuk menahan dampak ekonomi sekaligus melindungi lebih dari satu juta warga kawasan yang tinggal dan bekerja di Timur Tengah.
Isi rencananya tidak main main. ASEAN mendorong ratifikasi kesepakatan berbagi bahan bakar darurat, mempercepat gagasan jaringan listrik regional, menyiapkan stok energi, serta mencari sumber minyak mentah yang lebih beragam. Blok ini juga memasukkan kendaraan listrik dan energi nuklir sipil ke dalam daftar opsi jangka menengah. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengakui pelaksanaannya tidak sederhana, terutama karena cadangan bahan bakar regional dan integrasi jaringan listrik butuh biaya, koordinasi, dan politik yang tidak kecil.
Tekanannya bukan cuma pada angka impor energi. Para pemimpin ASEAN juga menyoroti risiko evakuasi besar jika perang di Timur Tengah kembali melebar, mengingat warganya tersebar di sejumlah negara terdampak. Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow merangkum kecemasan itu dengan kalimat yang tajam, “This war should not have occurred in the first place.” Marcos pun memperingatkan bahwa bahkan bila tensi segera turun, kerusakan pada infrastruktur penting dan kepercayaan pasar bisa terasa bertahun tahun.
Bagi Asia Tenggara, krisis ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan cepat tanpa bantalan strategis tetap rapuh saat guncangan datang dari luar kawasan. ASEAN kini mencoba bergerak lebih cepat dari biasanya, karena pasar energi jarang memberi waktu panjang untuk berunding. Untuk membaca arah pergeseran kawasan dengan kepala dingin, Insimen tetap layak masuk daftar pantau.
Discover more from Insimen
Subscribe to get the latest posts sent to your email.









