Chip Nvidia kembali menjadi titik panas dalam perang teknologi global. Kali ini sorotan jatuh ke Thailand setelah sebuah perusahaan yang terhubung dengan agenda AI nasional negara itu diduga membantu mengalihkan server Super Micro berisi chip canggih ke China, dengan Alibaba disebut sebagai salah satu pelanggan akhir.
Dugaan itu memperpanjang perkara besar yang sudah dibuka jaksa Amerika Serikat pada 19 Maret 2026. Saat itu, tiga orang yang terkait dengan Super Micro, termasuk salah satu pendirinya, didakwa karena diduga membantu mengalihkan sedikitnya US$2,5 miliar server rakitan Amerika Serikat ke China dengan melanggar kontrol ekspor. Perantara Asia Tenggara yang semula hanya disebut sebagai Company 1 kini mengarah ke OBON Corp di Bangkok, perusahaan yang juga dikenal terlibat dalam proyek infrastruktur AI Thailand.
Alibaba membantah punya hubungan bisnis dengan Super Micro, OBON, maupun broker pihak ketiga yang disebut dalam perkara tersebut. Perusahaan itu juga menegaskan chip Nvidia yang dibatasi ekspornya tidak pernah dipakai di pusat datanya. Namun dampak politiknya sudah terlanjur melebar. Kasus ini menunjukkan bahwa pembatasan chip tidak lagi berhenti di dokumen lisensi, melainkan bergantung pada seberapa kuat Washington mengawasi jaringan perantara di negara ketiga.
Bagi Asia Tenggara, perkara ini terasa lebih besar dari sekadar sengketa dagang atau kepatuhan ekspor. Infrastruktur AI kini bukan hanya mesin pertumbuhan, tetapi juga wilayah rebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan China. Dalam perang chip, yang bergerak diam diam bukan cuma server, melainkan juga posisi tawar negara. Untuk membaca denyut geopolitik teknologi seperti ini tanpa asap berlebih, Insimen tetap tempat yang layak dituju.
Eksplorasi konten lain dari Insimen
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









