Gaza kembali berguncang setelah Israel mengumumkan serangan yang diklaim menewaskan komandan senior Hamas, Raed Saad, di Gaza City. Hamas menilai tindakan itu merusak gencatan senjata yang sudah rapuh, sementara Israel bersikeras operasinya masih sesuai kerangka kesepakatan.

Menurut pernyataan militer Israel, Saad menjadi target dalam operasi di Gaza City. Otoritas kesehatan setempat menyebut serangan tersebut menewaskan lima orang dan melukai sedikitnya 25 lainnya. Di sisi lain, Hamas mengutuk serangan itu sebagai pelanggaran, namun tidak memberikan konfirmasi langsung mengenai status Saad.

Israel mengaitkan operasi ini dengan insiden pada hari yang sama ketika sebuah alat peledak melukai dua tentara Israel. Pemerintah Israel menyebut serangan itu sebagai respons langsung, sekaligus menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata tetap memberi ruang untuk tindakan terhadap pihak yang dinilai kembali membangun kapasitas tempur.

Advertisements

Poin yang paling diperebutkan adalah definisi “pelanggaran” itu sendiri. Israel menilai target bukan sekadar figur simbolik, melainkan bagian dari upaya membangun kembali kemampuan Hamas, termasuk aktivitas yang disebut terkait produksi senjata. Hamas melihatnya sebagai cara baru untuk mengikis kesepakatan secara bertahap, melalui serangan terarah yang efeknya tetap memicu korban dan ketakutan di wilayah padat penduduk.

Secara formal, gencatan senjata yang sedang berjalan semestinya memberi ruang bagi stabilisasi dan peningkatan bantuan kemanusiaan. Namun pembunuhan tokoh berprofil tinggi di tengah situasi yang belum pulih menambah risiko salah hitung. Gaza kembali berada di titik di mana satu serangan bisa dibaca sebagai penegakan aturan atau pemantik eskalasi berikutnya. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply