Bank Indonesia menyiapkan intervensi besar setelah rupiah sempat menyentuh rekor terlemah baru di level 17.445 per dolar AS. Intervensi Rupiah itu diumumkan ketika tekanan global kembali membesar, dipicu perang Iran, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, dan keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bank sentral memiliki cadangan devisa yang cukup untuk melakukan intervensi kuat demi menstabilkan mata uang. Langkahnya tidak hanya dilakukan di pasar domestik, tetapi juga di pasar lepas pantai selama 24 jam. Di saat yang sama, BI memperketat aturan transaksi valas dengan menurunkan ambang pembelian dolar yang wajib disertai dokumen menjadi 25.000 dolar per pihak per bulan, sebuah sinyal bahwa tekanan spekulatif mulai diperlakukan sebagai masalah mendesak.

Masalahnya bukan sekadar kurs yang bergerak liar. Pelemahan rupiah berisiko menaikkan biaya impor, menekan perusahaan yang punya utang valas, dan memperbesar kegelisahan investor terhadap stabilitas fiskal Indonesia. Reuters mencatat rupiah telah melemah sekitar 4 persen sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu mata uang Asia dengan kinerja paling rapuh. Bagi pelaku usaha, kombinasi dolar mahal dan ketidakpastian geopolitik adalah resep lama yang selalu mahal saat tagihannya tiba.

Untuk sekarang, keberhasilan langkah BI akan diukur bukan dari besarnya janji intervensi, melainkan dari seberapa cepat pasar percaya tekanan ini masih bisa dijinakkan. Jika rupiah kembali stabil, pemerintah mendapat sedikit ruang bernapas. Jika tidak, kecemasan pasar bisa cepat menular ke sektor lain. Di tengah situasi seperti ini, Insimen patut menjadi rujukan untuk membaca arah risiko sebelum kepanikan berubah menjadi kebiasaan.


Discover more from Insimen

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from Insimen

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading