Aramco membuka pekan dengan angka yang sulit diabaikan. Aramco melaporkan laba kuartal pertama 2026 sebesar 32,5 miliar dolar AS, naik 25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, ketika gangguan di Selat Hormuz mendorong harga minyak naik dan memaksa eksportir energi mencari jalur yang lebih aman.
Perusahaan minyak terbesar di dunia itu mengatakan sebagian ekspornya dialihkan ke East-West Pipeline yang melintasi Arab Saudi menuju Laut Merah. Jalur itu kini beroperasi pada kapasitas penuh 7 juta barel per hari untuk menahan dampak hambatan pengiriman di Hormuz. Langkah itu penting, tetapi tetap belum menyamai skala produksi Aramco yang pada kuartal akhir 2025 mencapai 11,1 juta barel per hari. Di pasar, harga Brent pada Minggu naik 2,58 persen menjadi 103,91 dolar AS per barel. Angka itu memang sudah turun dari puncak di atas 119 dolar AS saat perang memanas, tetapi masih jauh lebih tinggi dibanding kisaran sekitar 70 dolar AS pada akhir Februari.
Presiden dan CEO Aramco Amin Nasser menilai gejolak terbaru menjadi pengingat keras bahwa pasokan energi yang andal tetap menjadi fondasi ekonomi global. Ia menyebut infrastruktur domestik dan jaringan global Aramco membantu perusahaan menavigasi disrupsi yang rumit. Pernyataan itu bukan sekadar bahasa korporat. Sebelum konflik meledak, sekitar 20 persen minyak yang diperdagangkan dunia melintasi Selat Hormuz setiap hari, bersama pasokan gas alam, pupuk, dan produk energi lain.
Kenaikan laba ini menunjukkan satu hal yang sederhana. Dalam pasar energi yang rapuh, perusahaan dengan jalur cadangan dan skala logistik raksasa bisa mengubah krisis menjadi bantalan kinerja. Bagi pasar global, itu kabar yang sekaligus melegakan dan mengganggu, dan di situlah Insimen melihat cerita besarnya.
Eksplorasi konten lain dari Insimen
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









