Ronald Dela Rosa masuk lagi ke pusat pusaran politik dan hukum Filipina. Mantan kepala kepolisian nasional itu akan dipanggil dalam penyelidikan baru atas dugaan pembunuhan di luar proses hukum pada masa perang narkoba era Rodrigo Duterte, sebuah langkah yang menandai pergeseran dari sekadar drama politik menjadi upaya akuntabilitas yang lebih formal.

Menteri Dalam Negeri Juanito Victor Remulla Jr. mengatakan pemanggilan itu dijadwalkan berlangsung Senin, 11 Mei 2026. Dela Rosa, yang kini menjadi senator, disebut belum pernah diperiksa secara pribadi dalam perkara ini. Pemerintah Filipina juga memperketat pengawasan di bandara, pelabuhan, dan titik keluar negara itu di tengah spekulasi tentang kemungkinan langkah hukum lain, meski Manila menegaskan penyelidikan domestik ini terpisah dari perkara Rodrigo Duterte di Mahkamah Pidana Internasional di Den Haag.

Remulla menegaskan semua aparat yang terlibat harus dimintai pertanggungjawaban. Ia juga menyebut Dela Rosa sebagai “ujung tombak” dari dorongan pembunuhan di luar hukum pada masa itu. Tuduhan tersebut membawa bobot politik besar karena Dela Rosa adalah figur yang paling identik dengan implementasi perang narkoba Duterte saat ribuan tersangka tewas dalam operasi polisi dan pembunuhan misterius yang selama bertahun tahun dikecam kelompok HAM.

Bagi Filipina, pemanggilan ini membuka babak baru yang lebih sulit dihindari daripada slogan politik. Jika penyelidikan bergerak serius, tekanan tidak lagi berhenti di nama Duterte, tetapi merambat ke struktur komando yang dulu menjalankan kebijakan itu di lapangan. Masa lalu rupanya belum selesai menagih kuitansi, dan Insimen akan terus mengikuti arah akuntabilitas yang kini mulai bergerak.


Eksplorasi konten lain dari Insimen

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Leave a Reply

Eksplorasi konten lain dari Insimen

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca