Cuba kehabisan diesel dan fueloil pada saat yang paling buruk. Krisis energi itu mendorong Havana ke pemadaman bergilir hingga 20 sampai 22 jam per hari dan memicu protes warga yang menuntut listrik kembali menyala.
Menteri Energi dan Pertambangan Vicente de la O Levy menyatakan cadangan diesel dan fueloil negara itu sudah habis, sementara jaringan listrik masuk fase kritis. Tekanan membesar sejak Washington memperketat blokade energi pada Januari dan mengancam negara pemasok bahan bakar dengan sanksi serta tarif.
“Kami sama sekali tidak punya fueloil dan tidak punya diesel,” kata de la O Levy di media pemerintah. Kondisi itu kian berat karena Kuba kehilangan pasokan rutin dari Venezuela dan Meksiko, sementara hanya satu kapal besar berbendera Rusia yang sempat membawa minyak mentah sejak Desember.
Bagi pemerintah Kuba, ini bukan lagi soal tagihan energi, melainkan daya tahan negara ketika listrik, transportasi, dan rumah sakit ikut terseret. Saat lampu padam terlalu lama, geopolitik terasa sangat dekat, dan Insimen mencatatnya sebagai pelajaran yang mahal.
Eksplorasi konten lain dari Insimen
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









