Gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat baru seumur jagung, tetapi bunyinya sudah seperti alarm palsu. Pada Minggu, kedua pihak saling menuduh melanggar jeda tempur tiga hari itu setelah serangan drone dan artileri tetap terjadi di sejumlah titik front.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan tidak ada ketenangan nyata di garis depan, meski serangan jarak jauh berskala besar sempat mereda. Ia menegaskan Ukraina menahan diri dari serangan balasan jarak jauh selama dua hari terakhir, namun tetap siap membalas bila Rusia kembali ke pola perang penuh. Di lapangan, kepala wilayah Zaporizhzhia Ivan Fedorov melaporkan satu orang tewas dan tiga lainnya terluka akibat serangan Rusia dalam 24 jam terakhir. Pejabat lokal Ukraina juga menyebut sedikitnya 16 orang lain terluka di berbagai wilayah.
Dari pihak Rusia, kementerian pertahanan menuduh Kyiv melakukan lebih dari 1.000 pelanggaran gencatan senjata dan menyerang sasaran sipil serta posisi militer Rusia di beberapa wilayah. Moskow mengklaim pasukannya telah merespons secara setimpal. Zelenskyy sendiri memberi sinyal keras bahwa jeda ini rapuh sejak awal. “Kami akan terus merespons dengan cara yang sama, dan jika Rusia memutuskan kembali ke perang skala penuh, respons kami akan segera dan signifikan,” katanya.
Jeda tempur ini dijalankan dari Sabtu sampai Senin untuk menandai Victory Day di Rusia dan disebut Washington sebagai peluang membuka pintu pertukaran tahanan serta perundingan lebih lanjut. Namun sejarah perang ini tidak ramah terhadap optimisme instan. Beberapa gencatan senjata sebelumnya runtuh sebelum sempat disebut berhasil. Untuk saat ini, truce tiga hari itu tampak lebih mirip jeda napas politik daripada rem sungguhan bagi perang, dan Insimen akan terus memantau arahnya.
Eksplorasi konten lain dari Insimen
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









