Zelensky menyebut 55.000 tentara Ukraina tewas di medan perang sejak invasi penuh Rusia dimulai. Angka itu ia sampaikan pada Rabu, 4 Februari 2026, saat tekanan publik soal korban dan arah perang kembali menguat.

Pernyataan ini jarang keluar secara seterang itu dari Kyiv. Selama ini, kedua pihak lebih sering membeberkan estimasi korban lawan, lalu menahan rapat data sendiri karena dampaknya langsung ke moral dan dukungan. Zelensky juga menggarisbawahi satu masalah besar yang menggantung. Banyak orang berstatus hilang secara resmi, dan itu membuat angka kematian di lapangan diduga lebih tinggi dari data yang diumumkan. Pada Agustus 2025, catatan pemerintah mencatat lebih dari 70.000 orang hilang, mencakup prajurit dan warga sipil, tanpa rincian yang terbuka.

Di saat yang sama, diplomasi damai yang dipimpin Presiden AS Donald Trump masuk babak yang melelahkan. Utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner melanjutkan pertemuan tiga pihak di Abu Dhabi pada Kamis, dengan fokus pada detail proposal damai. Titik paling alot tetap soal wilayah, terutama Donbas, karena Rusia menuntut Ukraina menyerahkan bagian yang belum dikuasai Moskow. Di lapangan, jeda serangan yang diminta Trump berakhir cepat. Serangan Rusia kembali menekan sektor energi Ukraina ketika suhu turun ekstrem, dan pemadaman meluas.

Advertisements

“Secara resmi jumlah prajurit yang gugur di medan tempur adalah 55.000,” kata Zelensky. Angka resmi sebelumnya yang ia sebut pada Desember 2024 adalah 43.000. Pembicaraan Abu Dhabi juga menghasilkan kesepakatan tukar tahanan sebanyak 314 orang, dengan 157 warga Ukraina disebut sudah pulang, sementara jalur dialog militer tingkat tinggi AS dan Rusia mulai dibuka lagi setelah lama beku.

Angka korban yang naik dan negosiasi yang tersendat memberi pesan sederhana. Perang ini masih berjalan dengan meteran nyawa, bukan meteran perjanjian. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply