CoreWeave kembali menunjukkan bahwa ledakan AI kini makin mahal. CoreWeave menaikkan batas bawah belanja modal 2026 menjadi US$31 miliar dari US$30 miliar setelah harga komponen naik, dan sahamnya langsung jatuh lebih dari 9 persen di perdagangan setelah penutupan. Kabar ini penting karena CoreWeave adalah salah satu pemain neocloud paling agresif dalam perlombaan membangun kapasitas komputasi untuk model AI.
Perusahaan membiarkan batas atas capex tetap US$35 miliar, tetapi pesannya terang. Permintaan server, memori, storage, dan daya listrik untuk AI tidak melambat, justru semakin menekan rantai pasok. Pada kuartal pertama, pendapatan CoreWeave mencapai US$2,08 miliar, melampaui perkiraan analis, sementara backlog pendapatan melonjak ke US$99,4 miliar dari US$66,8 miliar pada akhir Desember. CoreWeave juga menambah lebih dari 400 megawatt daya terkontrak sehingga totalnya menembus 3,5 gigawatt.
Chief executive Michael Intrator menggambarkan fase ini sebagai percepatan besar menuju 2027. Ia mengatakan perusahaan sedang membangun bisnis, bukan sibuk membaca naik turun pasar harian. Nada itu sejalan dengan tiga kontrak besar yang baru saja diamankan CoreWeave, termasuk ekspansi kesepakatan US$21 miliar dengan Meta, perjanjian US$6 miliar dengan Jane Street, dan satu kontrak lain dengan Anthropic.
Masalahnya, pasar tidak hanya melihat pertumbuhan, tetapi juga tagihan yang ikut membengkak. Biaya operasional lebih dari dua kali lipat menjadi US$2,22 miliar, dan panduan pendapatan kuartal kedua justru sedikit di bawah ekspektasi analis. Itulah sebabnya cerita AI kini bukan cuma soal siapa paling cepat membangun model, tetapi siapa yang sanggup membayar listrik, chip, dan kapasitas cloud dalam skala industri. Untuk pembaca yang ingin melihat arah perang infrastruktur ini dengan kepala dingin, Insimen tetap layak dijadikan titik singgah.
Discover more from Insimen
Subscribe to get the latest posts sent to your email.









