Liverpool terpuruk di Anfield setelah dibantai PSV Eindhoven dengan skor empat satu dalam laga fase liga Liga Champions musim 2025 2026. Kekalahan ini tidak hanya merusak gengsi kandang yang selama ini angker. Hasil ini juga menegaskan betapa dalam jurang performa The Reds saat ini.
Pertandingan sebenarnya sempat hidup ketika Liverpool cepat merespons. Setelah penalti Ivan Perisic akibat handball Virgil van Dijk membawa PSV unggul lebih dulu pada awal laga, Dominik Szoboszlai membalas untuk menyamakan skor dan mengembalikan harapan publik Anfield. Namun setelah itu gawang Liverpool runtuh pelan pelan. Guus Til mencetak gol kedua PSV sebelum Couhaib Driouech menambah dua gol lain yang menegaskan dominasi tamu. Liverpool mencatat lebih dari dua puluh percobaan tembakan, termasuk peluang Virgil van Dijk yang membentur mistar, tetapi ketidakefektifan di depan gawang membuat semua usaha terlihat sia sia.
Skor empat satu ini menjadi kekalahan kandang pertama Liverpool di Liga Champions setelah empat belas laga dan melengkapi catatan suram sembilan kekalahan dalam dua belas pertandingan terakhir di semua ajang. Itu adalah laju terburuk sejak musim 1953 1954 ketika klub terakhir kali terdegradasi. Posisi di liga domestik pun merosot ke papan tengah meski skuad baru mahal sudah dibangun. Dalam situasi ini, mantan kapten Steven Gerrard menilai tim butuh jawaban cepat dari Arne Slot dan para pemain. Ia menegaskan bahwa performa saat ini tidak bisa lagi ditutup dengan nostalgia gelar musim lalu.
Bagi para pendukung, kekalahan telak dari PSV di Anfield terasa seperti alarm kebakaran yang sudah lama berdengung tetapi baru sekarang benar benar terdengar. Jika respons di lapangan tidak berubah, papan skor ke depan bisa lebih kejam daripada kritik di media sosial. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.









