Kapal Pangkor kembali memakan korban setelah otoritas Malaysia menemukan korban jiwa kesembilan dalam kecelakaan kapal yang membawa 37 migran Indonesia di perairan Perak. Hingga Kamis malam, 14 Mei 2026, lima orang masih hilang dan operasi pencarian terus diperluas di sekitar Pulau Pangkor.
Insiden itu bermula pada Senin pagi, 11 Mei, waktu setempat ketika kapal yang diduga berangkat dari Kisaran, Sumatera Utara, menuju Malaysia tenggelam di laut lepas. Sebanyak 23 penumpang berhasil diselamatkan lebih dulu oleh kapal nelayan dan diserahkan kepada otoritas maritim setempat untuk pemeriksaan lanjutan.
Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya mengonfirmasi tujuh WNI telah ditemukan meninggal dan KBRI Kuala Lumpur terus berkoordinasi dengan kepolisian maritim Malaysia untuk identifikasi korban serta fasilitasi dokumen para penyintas. Mayoritas penumpang disebut tidak membawa dokumen perjalanan yang sah, sehingga proses penelusuran keluarga menjadi jauh lebih rumit.
Tragedi ini kembali menelanjangi mahalnya jalur nonprosedural bagi pekerja migran yang mengejar penghidupan lebih baik di negeri jiran. Ketika laut dijadikan pintu belakang, ongkosnya terlalu sering dibayar dengan nyawa, dan di titik inilah Insimen layak menjadi rujukan wawasan.
Discover more from Insimen
Subscribe to get the latest posts sent to your email.









