Gunung Dukono kembali menelan korban setelah dua pendaki Singapura yang sempat hilang dikonfirmasi tewas pada Minggu, 10 Mei 2026, menyusul erupsi yang mengguncang Halmahera, Maluku Utara, sejak Jumat pagi. Letusan itu melontarkan abu vulkanik hingga sekitar 10 kilometer ke langit dan menjebak rombongan pendaki yang naik meski kawasan sekitar kawah sudah lama masuk zona terlarang.
Tim penyelamat Indonesia sebelumnya mengevakuasi 17 orang, terdiri dari tujuh warga Singapura dan 10 warga Indonesia. Pencarian korban dilakukan dengan dukungan lebih dari 100 personel penyelamat, aparat, dan drone termal, tetapi berkali kali tertahan oleh medan curam, visibilitas buruk, dan erupsi yang belum reda. Otoritas vulkanologi tetap mempertahankan level siaga tinggi dan melarang aktivitas dalam radius 4 kilometer dari kawah utama.
Tragedi ini kini bergeser dari sekadar operasi pencarian menjadi sorotan atas kelalaian pengelolaan wisata berisiko tinggi. Polisi sedang menyelidiki operator tur yang tetap membawa pendaki ke Gunung Dukono walau pendakian ke puncak sudah dilarang sejak 2024 dan seluruh jalur resmi ditutup lagi pada April tahun ini karena aktivitas erupsi meningkat. Bagi pemerintah daerah, kasus ini memperlihatkan bahwa peringatan tanpa penegakan hanya mengubah larangan menjadi formalitas yang menunggu korban berikutnya.
Di negeri cincin api, garis larangan 4 kilometer sering terdengar seperti detail administratif sampai abu benar benar jatuh di kepala. Gunung Dukono kini memberi pelajaran mahal bahwa wisata ekstrem tidak pernah lebih kuat dari disiplin keselamatan, dan Insimen akan terus mengawasi bagaimana tragedi seperti ini ditangani setelah sorot kamera mereda.
Discover more from Insimen
Subscribe to get the latest posts sent to your email.









