Perhatian terhadap hantavirus kembali meningkat setelah Organisasi Kesehatan Dunia, atau WHO, pada 4 Mei 2026 melaporkan klaster kasus yang terkait perjalanan kapal pesiar dan dua hari kemudian menerbitkan lembar fakta baru tentang penyakit ini. Sorotan global itu penting bukan hanya karena adanya kasus lintas negara, tetapi juga karena hantavirus memang termasuk infeksi yang kerap tampak ringan di awal lalu memburuk sangat cepat. Di banyak kasus, pasien mula-mula hanya terlihat seperti terserang flu, padahal infeksi dapat berkembang menjadi gangguan berat pada paru-paru, jantung, atau ginjal.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, atau CDC, menyebut hantavirus sebagai kelompok virus yang dibawa hewan pengerat dan dapat menimbulkan penyakit serius hingga kematian pada manusia. Di kawasan Amerika, bentuk yang paling ditakuti adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS, yang membuat paru-paru terisi cairan dan memicu sesak napas berat. CDC mencatat gejala pernapasan berat biasanya muncul empat sampai sepuluh hari setelah fase awal, dan sekitar 38 persen pasien yang sudah mencapai fase gangguan napas dapat meninggal. WHO dalam fact sheet 6 Mei 2026 juga menegaskan bahwa infeksi hantavirus dapat berkembang menjadi penyakit berat dan fatal, terutama ketika sudah mengenai sistem pernapasan atau ginjal.
Bahaya hantavirus justru terletak pada fase awalnya yang menipu. Gejala pertama lazim berupa demam, lelah berat, nyeri otot, sakit kepala, pusing, menggigil, mual, muntah, diare, atau nyeri perut. CDC menyebut gejala HPS umumnya muncul satu sampai delapan minggu setelah seseorang terpapar hewan pengerat yang terinfeksi. Karena polanya sangat mirip influenza, infeksi virus biasa, atau gangguan pencernaan, banyak orang tidak langsung mengaitkannya dengan paparan tikus. Padahal ketika penyakit beralih ke fase lanjut, pasien bisa mendadak mengalami batuk, dada terasa berat, sesak napas, penurunan tekanan darah, hingga gagal napas yang membutuhkan perawatan intensif.
Selain menyerang paru-paru, hantavirus juga dapat merusak ginjal. WHO dan CDC sama-sama menjelaskan bahwa kelompok hantavirus tertentu dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS. Dalam bentuk ini, pasien bisa mengalami tekanan darah sangat rendah, syok, kebocoran pembuluh darah, perdarahan internal, dan gagal ginjal akut. Risiko klinis semacam ini membuat hantavirus berbeda dari infeksi ringan yang dapat diawasi di rumah tanpa kewaspadaan khusus. Begitu dokter mencurigai riwayat paparan tikus, pemantauan ketat terhadap fungsi napas, jantung, dan ginjal menjadi sangat penting.
Rute penularan paling umum juga menjelaskan mengapa penyakit ini sering muncul tanpa disadari. Virus biasanya menyebar ketika seseorang menghirup partikel dari urin, kotoran, air liur, atau material sarang tikus yang terkontaminasi, terutama saat area kotor dibersihkan secara keliru. CDC mengingatkan bahwa menyapu kering atau menyedot kotoran tikus dengan vacuum dapat membuat partikel terangkat ke udara. Penularan juga bisa terjadi ketika tangan menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung, mulut, atau mata, dan lebih jarang melalui gigitan tikus. Secara umum hantavirus tidak menular antarmanusia, tetapi WHO menegaskan Andes virus merupakan pengecualian langka yang dapat menyebar terbatas melalui kontak dekat dan berkepanjangan dengan pasien.
Karena belum ada terapi antivirus berlisensi yang secara khusus menyembuhkan infeksi hantavirus, penanganan sangat bergantung pada kecepatan mengenali kasus. WHO menyatakan belum ada obat antivirus spesifik berlisensi maupun vaksin umum untuk hantavirus. Artinya, hasil klinis pasien banyak ditentukan oleh seberapa cepat ia mendapat perawatan suportif, mulai dari oksigen, pemantauan intensif, bantuan pernapasan, hingga dukungan terhadap sirkulasi dan ginjal bila diperlukan. Dalam konteks ini, keterlambatan diagnosis bisa menjadi sangat mahal, sebab dokter mungkin tidak segera menguji hantavirus bila pasien hanya datang dengan keluhan yang tampak seperti flu atau gangguan lambung biasa.
Itu sebabnya riwayat paparan tikus menjadi informasi penting yang tidak boleh diabaikan. Orang yang baru membersihkan gudang, plafon, garasi, dapur, rumah kosong, kendaraan lama, kandang, atau area lain dengan jejak hewan pengerat perlu lebih waspada bila setelahnya muncul demam, nyeri otot, batuk, atau lemas berat. Kewaspadaan yang sama berlaku bagi mereka yang tinggal atau bekerja di lokasi dengan infestasi tikus, sering menangani perangkap atau bangkai tikus, atau beraktivitas di ladang, hutan, dan bangunan dekat habitat pengerat. CDC secara khusus menyarankan orang yang mencurigai penyakit hantavirus untuk segera menemui dokter dan menyebutkan riwayat paparan tikus agar diagnosis tidak terlambat.
Pencegahan pada akhirnya masih menjadi garis pertahanan utama. WHO menganjurkan pengurangan kontak manusia dengan hewan pengerat melalui kebersihan rumah dan tempat kerja, penyimpanan makanan yang aman, penutupan celah masuk tikus, serta praktik pembersihan yang benar. Langkah praktisnya sederhana tetapi krusial: ventilasikan ruangan terlebih dahulu, jangan menyapu kering kotoran tikus, basahi area terkontaminasi dengan disinfektan, gunakan sarung tangan, buang limbah pembersihan dalam plastik tertutup, lalu cuci tangan sampai bersih. Di tengah perhatian dunia terhadap klaster kasus terbaru, pesan terpenting tentang hantavirus tetap sama: jangan panik, tetapi jangan pernah meremehkan kombinasi demam mirip flu dan riwayat paparan tikus, karena itulah titik ketika penyakit langka ini bisa berubah menjadi keadaan darurat medis.
Discover more from Insimen
Subscribe to get the latest posts sent to your email.









