Indonesia kini duduk di atas bom waktu kesehatan yang siap meledak kapan saja. Fenomena diabetes anak tidak lagi menjadi kasus langka, melainkan epidemi yang tumbuh subur dalam senyap. Data klinis dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat lonjakan kasus diabetes tipe 2 hingga 80 persen sejak 2010. Angka ini berjalan beriringan dengan naiknya tingkat obesitas sentral pada remaja yang dipicu oleh pola konsumsi tinggi gula dan gaya hidup sedentari. Situasi di lapangan jauh lebih mengerikan dari sekadar angka statistik biasa.
Situasi semakin rumit akibat kekacauan data surveilans nasional yang kontradiktif. Platform SATUSEHAT merilis klaim mengejutkan bahwa 91 persen kasus diabetes pediatrik adalah tipe 2. Klaim ini bertentangan keras dengan konsensus medis global yang menempatkan diabetes tipe 1 sebagai dominasi utama pada populasi anak. Kesalahan input kode diagnosis di tingkat layanan primer disinyalir menjadi biang kerok distorsi informasi ini. Dampaknya fatal bagi keselamatan pasien. Ribuan anak dengan diabetes tipe 1 berisiko meninggal akibat ketoasidosis karena gejalanya kerap disalahartikan sebagai asma atau gangguan pencernaan biasa.
Beban ekonomi keluarga pasien semakin berat karena absennya dukungan penuh dari sistem jaminan negara. BPJS Kesehatan memang menanggung insulin, namun alat vital seperti strip cek gula darah mandiri sama sekali tidak masuk dalam paket manfaat. Biaya rutin untuk alat pantau ini bisa menggerus hingga 30 persen pendapatan rumah tangga berupah minimum. Ironisnya, di tengah krisis kesehatan yang membebani rakyat ini, pemerintah justru kembali menunda penerapan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) hingga 2026 dengan alasan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.
Perlindungan terhadap generasi masa depan tampaknya masih kalah prioritas dibandingkan kepentingan industri dan argumen fiskal jangka pendek. Penundaan regulasi tegas dan validasi data yang lambat hanya akan memperpanjang daftar anak yang tumbang sebelum dewasa. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.









