Beruang membuat Jepang memasuki fase baru konflik satwa liar. Data pemerintah yang dirangkum media pada 6 Desember 2025 mencatat rekor 230 orang tewas atau terluka sejak April 2025, dengan 13 kematian dan 217 cedera sampai akhir November.
Masalahnya tidak lagi terbatas pada pendaki gunung. Insiden kini sering terjadi dekat rumah, sekolah, sampai fasilitas publik, terutama di wilayah utara dan timur laut seperti Akita dan area sekitarnya. Jepang memang hanya punya dua spesies beruang utama. Beruang hitam Asia hidup di Honshu dan Shikoku. Beruang cokelat terutama berada di Hokkaido.

Trennya sudah menguat lebih dulu. Periode 12 bulan sampai Maret 2024 mencatat rekor 219 korban serangan, dengan 6 kematian, serta lebih dari 9.000 beruang ditangkap atau dieliminasi. Pemicunya berlapis. Pakan alami seperti acorn dan beechnut menurun. Musim dingin yang lebih hangat menggeser pola hibernasi. Depopulasi pedesaan membuat batas hutan dan permukiman makin kabur, sehingga beruang makin terbiasa mendekati manusia.
Responsnya ikut berubah. Jepang mengerahkan personel Pasukan Bela Diri untuk membantu pemasangan dan pemeriksaan perangkap di Akita, sementara pemburu terlatih tetap menangani penindakan. Pemerintah juga melonggarkan aturan penggunaan senjata dalam situasi darurat di area perkotaan. “Kami sama sekali tidak bisa menunda langkah penanganan beruang,” kata pejabat pemerintah Kei Sato.
Untuk warga, pesannya sederhana. Buat beruang sadar manusia ada di sekitar lewat bel atau peluit, hindari membawa bau makanan, dan jangan lari saat berhadapan, mundur pelan sambil memberi ruang. Panduan praktis semacam ini makin sering disebarkan karena ancamannya sudah pindah dari hutan ke halaman rumah. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.









