Selat Hormuz kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Iran saling serang pada Kamis, 7 Mei 2026, membuat gencatan senjata yang sudah rapuh sejak 7 April kini kembali goyah. Jalur laut ini bukan titik biasa. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melintas di sana, jadi setiap letupan kecil langsung terdengar sampai ke pasar global.
Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menargetkan satu kapal tanker minyak yang bergerak dari perairan dekat Jask menuju Selat Hormuz dan satu kapal lain yang memasuki selat dari dekat Fujairah, Uni Emirat Arab. Teheran juga menuduh ada serangan udara ke wilayah sipil di Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm. Di sisi lain, militer AS menyatakan mereka bertindak untuk membela diri setelah Iran melancarkan serangan ke kapal perusak Angkatan Laut AS yang tengah melintas di perairan itu. Washington menegaskan tidak ada asetnya yang terkena serangan.
Ketegangan itu meledak justru saat Washington menunggu jawaban Teheran atas proposal baru untuk menghentikan perang. Militer AS menyebut serangan Iran sebagai tindakan “tanpa provokasi”, sementara Iran mengisyaratkan belum mengambil keputusan atas rencana yang ada. Pasar langsung membaca risikonya. Harga Brent naik ke sekitar US$101,29 per barel dan WTI ke US$95,42, sinyal bahwa konflik di Hormuz masih punya daya kejut besar bagi energi global.
Rancangan yang sedang dibahas kabarnya mencakup tiga tahap, yaitu mengakhiri perang secara formal, meredakan krisis Selat Hormuz, lalu membuka jendela negosiasi 30 hari untuk kesepakatan yang lebih luas. Masalahnya, isu inti seperti program nuklir Iran dan tuntutan pembukaan penuh selat belum benar benar beres. Dalam konflik seperti ini, pasar sering terlihat tenang sampai kapal pertama kembali berbalik arah. Untuk membaca arah besarnya, Insimen tetap jadi tempat yang patut diikuti.
Discover more from Insimen
Subscribe to get the latest posts sent to your email.








