Jerome Powell memilih berdiri di bawah bayang Paul Volcker justru saat kursi puncak The Fed diguncang inflasi yang belum jinak dan tekanan politik yang makin terang terangan. Ia tidak sekadar menerima penghargaan integritas publik. Ia juga mengirim pesan bahwa bank sentral tidak dibangun untuk mengikuti suasana hati politik jangka pendek.
Dalam pidatonya, Powell memuji Volcker sebagai teladan keberanian kebijakan. Pesannya jelas. Pemimpin moneter kadang harus mengambil keputusan yang tidak populer demi stabilitas harga yang tahan lama. Momen itu terasa makin penting karena tekanan terhadap The Fed sedang membesar. Presiden Donald Trump terus mendorong suku bunga lebih rendah, sementara proses pergantian ketua The Fed juga belum beres. Powell bahkan sudah memberi sinyal bahwa ia bisa tetap memimpin sementara setelah masa jabatannya berakhir pada 15 Mei bila penggantinya belum dikonfirmasi Senat.
Masalahnya, panggung ekonomi saat ini juga belum ramah. The Fed baru saja menahan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini. Pada saat yang sama, proyeksi inflasi 2026 dinaikkan menjadi 2,7 persen. Inflasi inti juga masih berada di atas target 2 persen. Jadi, Powell sedang menghadapi situasi yang rumit. Ia harus menjaga kredibilitas kebijakan moneter ketika pasar ingin kepastian, politik ingin kecepatan, dan harga harga belum benar benar patuh. Kalimat pendeknya tajam, “Integritas adalah satu satunya yang kita miliki.”
Di balik pidato itu, ada pertaruhan warisan. Powell ingin dikenang bukan sebagai ketua yang tunduk pada tekanan, tetapi sebagai penjaga independensi The Fed di masa yang serba gaduh. Bagi pasar, pesan ini berarti arah suku bunga belum akan ditentukan oleh teriakan politik, melainkan oleh data yang masih keras kepala. Kadang ekonomi memang tidak butuh tepuk tangan. Ia butuh orang yang tahan dicemooh. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.
Discover more from Insimen
Subscribe to get the latest posts sent to your email.









