Rupiah bergerak hati hati di pasar NDF pada Senin, 9 Februari 2026, karena persepsi risiko belum benar benar turun. Pada pembukaan perdagangan offshore pagi ini, kontrak rupiah sempat melemah 0,07% ke Rp16.876 per dolar AS, lalu berbalik menguat tipis sehingga pelemahannya tinggal 0,05% di Rp16.873 per dolar AS.

Ruang gerak rupiah juga terasa sempit karena dolar AS tidak tampil dominan sejak awal sesi Asia. Indeks dolar bergerak terbatas, sempat menguat 0,07% ke 97,7, lalu berbalik turun 0,06% ke 97,57. Kondisi ini membuat pergerakan mata uang Asia jadi beragam, tetapi rupiah tetap sulit mencari alasan untuk menanjak lebih jauh ketika pelaku pasar masih memegang sikap defensif.

Advertisements

Di antara mata uang yang sudah bergerak, baht Thailand memimpin penguatan dengan kenaikan 0,64%, disusul ringgit Malaysia 0,24% dan yen Jepang 0,21%. Penguatan baht yang menonjol muncul bersama ekspektasi berlanjutnya kebijakan yang dianggap ramah investor, seiring harapan kemenangan petahana. Seorang analis pasar menilai, “Kalau persepsi risiko masih bertahan, rupiah cenderung bolak balik tipis dan sulit keluar dari rentang sempitnya.”

Buat pelaku usaha dan investor, pola seperti ini biasanya berarti biaya lindung nilai tetap relevan, sementara keputusan besar cenderung menunggu kepastian arah dolar dan sentimen risiko. Rupiah mungkin tidak sedang jatuh, tetapi pasar juga belum siap memberi karpet merah. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply