Pasar Kerja AS terasa membeku, dan efeknya langsung terasa pada orang yang sedang berburu pekerjaan. Perekrutan melambat, lowongan terlihat ada, tetapi pintu masuknya menyempit. Banyak pelamar mendapati proses seleksi lebih panjang, lalu keputusan perusahaan sering ditunda.
Masalahnya bukan satu faktor. Banyak tekanan datang bersamaan, lalu saling menguatkan. Ketidakpastian tarif membuat rencana bisnis kabur. Bunga jangka pendek menekan biaya. Perusahaan teknologi masih merapikan kelebihan karyawan setelah euforia pascapandemi. Di saat yang sama, pekerja jarang keluar dari pekerjaan mereka.
Kombinasi ini menciptakan situasi yang janggal. Laju perekrutan melemah, tetapi angka pengangguran tidak melonjak tajam. Perusahaan tidak banyak melakukan PHK. Namun perusahaan juga tidak agresif menambah orang baru. Akhirnya, perputaran Pasar Kerja melambat, seperti mesin yang tetap menyala tetapi tidak mau naik gigi.
Pasar Kerja AS Masuk Fase Beku
Perekrutan biasanya bergerak karena satu hal sederhana, yaitu penggantian. Orang resign, lalu perusahaan mencari pengganti. Ketika orang tidak resign, kebutuhan perekrutan ikut turun, walau bisnis masih jalan.
Inilah yang sekarang terlihat di Pasar Kerja. Banyak pekerja memilih bertahan. Banyak manajer memilih menunggu. Di tengah tarik menarik itu, pelamar kerja berada di posisi paling rentan, karena mereka butuh pintu masuk yang rutin.
Perekrutan Turun, Angka Hires Melemah
Data perekrutan menunjukkan penurunan yang nyata. Perusahaan di AS mencatat sekitar 5,3 juta perekrutan pada Desember. Angka itu terdengar besar, tetapi proporsinya yang penting. Tingkat perekrutan, yaitu hires rate, berada di sekitar 3,3 persen dari total pekerjaan.
Level itu tergolong rendah jika dibandingkan periode sebelum pandemi. Situasi kontras muncul bila dibandingkan beberapa tahun lalu, saat perusahaan berebut tenaga kerja. Saat itu, perusahaan cenderung membuka banyak posisi, lalu menutupnya cepat. Sekarang, banyak posisi dibuka dengan tempo lambat, lalu ditutup tanpa kepastian.
Biasanya, hires rate yang rendah berkorelasi dengan pengangguran yang lebih tinggi. Namun pengangguran berada di sekitar 4,4 persen. Ini yang membuat banyak ekonom menyebut Pasar Kerja sedang berada di zona aneh. Perekrutan lesu, tetapi pemutusan hubungan kerja tidak meledak.
Dampaknya muncul pada pertumbuhan pekerjaan. Pertumbuhan lapangan kerja berjalan sangat pelan. Tahun 2025 mencatat penambahan pekerjaan paling sedikit, untuk kondisi non resesi, sejak 2003. Selain itu, pasar juga menunggu revisi tahunan yang berpotensi menurunkan hitungan total pekerjaan 2025. Laporan pekerjaan Januari dijadwalkan rilis Rabu, 11 Februari 2026, dan pasar akan membaca arah barunya.
PHK Tidak Meledak, Tetapi Perusahaan Tetap Menahan Diri
Perusahaan belum bereaksi seperti saat resesi. Permintaan konsumen masih memberi napas bagi banyak sektor. Karena itu, gelombang PHK besar belum terjadi. Namun perusahaan juga tidak merasa aman untuk melakukan ekspansi agresif.
Banyak eksekutif memilih strategi bertahan. Mereka menjaga tim inti, lalu membatasi perekrutan tambahan. Strategi ini terlihat masuk akal bagi perusahaan, tetapi menciptakan tekanan bagi pelamar. Mereka tidak hanya bersaing dengan sesama penganggur. Mereka juga bersaing dengan pekerja yang ingin pindah, walau jumlahnya lebih kecil.
Ada juga faktor psikologis yang ikut mengunci Pasar Kerja. Pekerja membaca situasi perekrutan yang dingin, lalu mereka menunda resign. Karena mereka menunda resign, perusahaan tidak perlu banyak replacement hiring. Siklus ini berputar sendiri.
Sementara itu, beberapa pengumuman PHK besar tetap muncul di berita. Namun angka keseluruhan belum mengarah ke gelombang pemangkasan masif. Hasil akhirnya tetap sama, yaitu pasar terasa seret, khususnya di pintu masuk.
Tarif, Bunga Tinggi, Dan Penundaan Rekrutmen
Di banyak perusahaan, keputusan perekrutan lahir dari rencana penjualan dan investasi. Ketika perusahaan ragu pada permintaan atau biaya, mereka akan menunda perekrutan. Saat ini, dua faktor besar ikut menambah ragu, yaitu tarif dan bunga tinggi.
Keduanya menekan dengan cara berbeda. Tarif menciptakan ketidakpastian biaya, terutama bagi bisnis yang bergantung pada impor atau rantai pasok global. Bunga tinggi menekan arus kas, terutama bagi perusahaan kecil yang bergantung pada pembiayaan jangka pendek.
Ketidakpastian Tarif Membuat Rencana Bisnis Kabur
Tarif tidak hanya soal biaya tambahan. Tarif juga soal prediksi. Perusahaan butuh proyeksi biaya bahan baku, harga jual, dan margin. Ketika kebijakan tarif berubah atau tidak jelas arahnya, perusahaan kesulitan membuat rencana setahun ke depan.
Banyak manajer memilih menunda langkah besar, termasuk perekrutan. Mereka menunggu kepastian arah kebijakan. Sikap menunggu ini terasa kuat di industri yang sensitif terhadap impor, manufaktur, dan ritel tertentu. Dalam situasi normal, perusahaan bisa mengalihkan biaya. Namun dalam situasi rapuh, perusahaan cenderung menahan diri.
Tarif juga memukul bisnis kecil lebih keras. Banyak bisnis kecil tidak punya ruang negosiasi harga yang lebar. Mereka juga tidak punya tim manajemen risiko yang lengkap. Ketika biaya naik, mereka memotong pengeluaran yang paling mudah ditunda. Perekrutan sering menjadi target pertama.
Efek ini menyebar ke Pasar Kerja secara luas. Bisnis kecil merupakan sumber pekerjaan yang besar di banyak wilayah. Jika mereka menahan perekrutan, peluang di level lokal ikut mengecil.
Bunga Jangka Pendek Menekan Pembiayaan Perusahaan Kecil
Bunga jangka pendek yang tinggi menciptakan tekanan kas yang langsung terasa. Banyak perusahaan kecil mengandalkan kredit bergulir. Beberapa bahkan memakai kartu kredit bisnis untuk menutup kebutuhan harian. Ketika bunga tinggi, biaya dana naik cepat.
Biaya dana yang mahal membuat perekrutan terasa sebagai komitmen besar. Gaji bukan satu satunya biaya. Ada biaya pelatihan, alat kerja, manfaat, serta risiko mismatch. Dalam situasi bunga tinggi, perusahaan cenderung memilih lembur, otomatisasi sederhana, atau kontrak jangka pendek, dibanding merekrut pegawai baru.
Tekanan bunga juga mengubah selera risiko investor dan pemberi pinjaman. Kredit menjadi lebih selektif. Ketika akses kredit menyempit, perusahaan memangkas rencana ekspansi. Ketika ekspansi tertahan, perekrutan ikut tertahan.
Ini juga menjelaskan kenapa Pasar Kerja terasa dingin walau ekonomi tidak jatuh bebas. Ekonomi masih bergerak, tetapi banyak keputusan besar tertahan. Pintu masuk pekerjaan baru pun tidak seramai dulu.
Orang Bertahan, Imigrasi Menyusut, AI Mengintai
Jika tarif dan bunga menjelaskan sisi perusahaan, sisi pekerja menjelaskan sisi lainnya. Pekerja melihat pasar yang rapuh. Mereka menahan langkah. Mereka memilih stabilitas. Akibatnya, perputaran posisi kerja melambat.
Di atas itu, ada perubahan struktural. Arus imigrasi yang menurun mengubah suplai tenaga kerja sekaligus permintaan. Selain itu, muncul faktor baru yang sulit diukur cepat, yaitu AI. Banyak perusahaan melihat AI sebagai peluang efisiensi, lalu mereka menjadi lebih selektif saat merekrut.
Pasar Kerja Terkunci Karena Pekerja Menahan Resign
Jumlah resign menurun dibanding puncak euforia pascapandemi. Pada Desember, sekitar 3,2 juta orang keluar dari pekerjaannya. Angka ini jauh di bawah sekitar 4,5 juta pada Maret 2022, saat perekrutan masih panas.
Tingkat resign, yaitu quits rate, berada di sekitar 2 persen. Angka ini juga lebih rendah dibanding rata rata 2019 yang berada di sekitar 2,3 persen. Angka kecil ini punya dampak besar, karena mayoritas perekrutan bulanan biasanya menggantikan orang yang pergi.
Di sinilah muncul efek lingkaran. Pekerja tidak mau resign karena perekrutan rendah. Namun perekrutan juga rendah karena pekerja tidak resign. Siklus ini membuat Pasar Kerja seperti terkunci, terutama bagi orang yang butuh pintu masuk.
Survei konsumen ikut memperkuat suasana. Pada Desember, konsumen memperkirakan peluang menemukan kerja dalam tiga bulan, jika mereka kehilangan pekerjaan, berada di sekitar 43 persen. Itu menjadi titik terendah sejak survei ini berjalan belasan tahun. Dalam survei Februari, sekitar 60 persen responden memperkirakan pengangguran akan naik dalam 12 bulan. Survei lain juga menunjukkan makin banyak orang merasa pekerjaan sulit didapat, sementara yang merasa pekerjaan melimpah menurun.
Imigrasi Menyusut Mengubah Matematika Pasar Kerja
Perubahan arus imigrasi memengaruhi Pasar Kerja dari dua sisi. Pertama, imigrasi menyumbang tenaga kerja baru. Ketika arus ini menurun, perusahaan punya lebih sedikit kandidat, khususnya di sektor yang bergantung pada pekerja baru.
Kedua, imigran juga menjadi konsumen. Ketika arus imigrasi menurun, permintaan barang dan jasa ikut berubah. Ini menurunkan kebutuhan perusahaan untuk menambah kapasitas. Jadi, penurunan imigrasi bisa menekan suplai sekaligus permintaan, pada saat yang sama.
Perkiraan kebutuhan penambahan pekerjaan bulanan juga ikut bergeser. Pada paruh kedua 2025, ekonomi diperkirakan hanya perlu menambah sekitar 35.000 pekerjaan per bulan agar pengangguran stabil, turun dari sekitar 140.000 per bulan pada 2024. Untuk 2026, kisarannya bahkan mengarah ke sekitar 15.000 pekerjaan per bulan.
Angka ini membantu menjelaskan kontradiksi yang terlihat. Perekrutan melambat, tetapi pengangguran tidak meledak. Ketika kebutuhan penambahan pekerjaan bulanan lebih rendah, ekonomi bisa terlihat stabil walau perputaran kerja mengecil. Namun bagi pelamar, stabilitas ini tetap terasa pahit, karena kompetisi per posisi meningkat.
AI Membuat Perekrutan Lebih Selektif Di Pasar Kerja
AI menjadi faktor yang paling sulit diukur, karena dampaknya belum merata. Banyak orang mengira AI langsung memangkas pekerjaan. Kenyataannya lebih rumit. Di beberapa sektor, perusahaan lebih dulu menahan perekrutan, sambil menunggu peran AI menjadi jelas.
Ada sinyal bahwa pekerjaan yang sangat terpapar AI mulai merasakan tekanan, terutama pada kelompok muda. Pekerjaan seperti pengembangan perangkat lunak sering disebut sebagai contoh. Namun dampak agregatnya belum cukup besar untuk mengubah total Pasar Kerja secara drastis.
Di sektor teknologi, perlambatan perekrutan juga punya cerita lain. Perusahaan teknologi sempat merekrut besar besaran setelah pandemi. Ketika permintaan tidak setinggi perkiraan, perusahaan menanggung kelebihan karyawan. Mereka lalu merapikan struktur, dan itu menahan perekrutan baru, terlepas dari AI.
Namun AI tetap mengubah cara perusahaan berpikir. Banyak manajer melihat kemungkinan AI mengambil sebagian tugas. Mereka lalu ragu untuk mengisi posisi yang mungkin berubah dalam setahun. Keraguan ini sering muncul pada peran administratif, analitik dasar, dan beberapa peran junior. Karena itu, sebagian analis melihat kenaikan pengangguran pada lulusan baru sebagai sinyal pasar yang makin selektif.
Pada akhirnya, AI mungkin tidak menjadi penyebab tunggal. Namun AI bisa menjadi pemicu tambahan yang membuat keputusan perekrutan makin berhati hati. Dalam Pasar Kerja yang sudah dingin, satu alasan tambahan saja sudah cukup untuk memperpanjang masa tunggu pelamar.
Pasar Kerja AS saat ini tidak runtuh, tetapi juga tidak ramah bagi pencari kerja. Perekrutan menurun, pekerja bertahan, dan perusahaan menunggu kepastian biaya serta arah teknologi. Jika tren ini bertahan, pelamar perlu strategi yang lebih tajam, dan pembaca bisa lanjutkan membaca artikel terkait di Insimen untuk melihat taktik karier yang paling relevan di fase pasar seperti ini.









