Ekspor Indonesia kembali jadi garis depan saat rupiah melemah dan tekanan global belum reda. Pemerintah memilih tidak terpaku pada kurs, lalu mendorong pelaku usaha memperluas pasar serta menjaga volume pengiriman agar perdagangan luar negeri tetap bergerak.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai kinerja awal tahun masih cukup kuat. Data BPS menunjukkan nilai ekspor Maret 2026 mencapai US$22,53 miliar, naik 1,62 persen dibanding Februari, meski secara tahunan turun 3,10 persen. Secara kumulatif Januari sampai Maret, ekspor tercatat US$66,85 miliar.
Bagi pemerintah, pelemahan rupiah justru membuka ruang untuk memperkuat daya saing barang Indonesia di pasar global, asalkan eksportir tidak berhenti mencari pembeli baru. Fokusnya kini bukan sekadar bertahan, tetapi memastikan surplus dagang tetap terjaga saat konflik dan tekanan perdagangan internasional mengacaukan arus barang.
Taruhannya jelas. Jika ekspor melambat, tekanan kurs bisa cepat merembet ke sentimen ekonomi yang lebih luas. Karena itu, pasar baru dan ritme kiriman menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda, dan Insimen melihat babak ini sebagai ujian dingin bagi ketahanan dagang Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Insimen
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









