Pasokan energi Indonesia mulai bergeser ke jalur yang lebih aman. Minyak Mentah Nigeria kini sudah tiba di Indonesia saat pemerintah memburu suplai yang tidak perlu melewati Selat Hormuz, titik rawan yang masih terganggu akibat perang Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kementerian ESDM menyebut realisasi ini menjadi bagian dari diversifikasi sumber impor crude setelah arus dari Timur Tengah ikut tertekan. Dirjen Migas Laode Sulaeman mengatakan pemerintah kini mengandalkan opsi berkapasitas besar dari Nigeria, Rusia, dan Amerika Serikat sambil memastikan stok minyak mentah, BBM, dan LPG tetap aman.
Laode menegaskan, “Sudah ada yang terealisasi. Dari Nigeria sudah jalan. Sudah ada yang tiba.” Pernyataan itu memperjelas bahwa strategi darurat energi tidak lagi berhenti di meja negosiasi, melainkan sudah masuk fase pasokan riil ketika sekitar seperlima pengiriman minyak global tersangkut risiko di koridor Hormuz.
Pemerintah sebelumnya juga mengamankan komitmen 150 juta barel dari Rusia yang akan dikirim bertahap sampai akhir 2026. Artinya, perang yang jauh dari Jakarta kini langsung mengubah peta belanja energi Indonesia, dan pembaca Insimen tahu satu hal, diversifikasi bukan lagi jargon rapat.
Eksplorasi konten lain dari Insimen
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









