Surplus Transaksi Berjalan Korea Selatan melompat ke level tertinggi sepanjang sejarah pada Maret 2026, memberi sinyal bahwa mesin ekspor negeri itu masih bekerja kencang meski pasar global dibayangi perang di Timur Tengah. Bank of Korea mencatat surplus transaksi berjalan mencapai US$37,33 miliar, jauh di atas rekor sebelumnya US$23,19 miliar pada Februari. Ini juga menjadi bulan ke 35 berturut turut Korea Selatan membukukan surplus, salah satu rentang terpanjang dalam dua dekade terakhir.
Lonjakan itu terutama datang dari neraca barang yang mencetak surplus US$35,1 miliar, didorong ekspor yang menembus rekor US$94,3 miliar. Gelombang terbesar datang dari semikonduktor dan produk komputer, sementara ekspor produk minyak serta bahan kimia ikut terdorong kenaikan harga energi. Di saat yang sama, tekanan belum sepenuhnya hilang. Neraca jasa masih defisit sekitar US$1,3 miliar, menandakan konsumsi lintas batas dan biaya logistik belum benar benar jinak.
Bagi pasar, angka ini penting bukan hanya karena besarannya, tetapi karena menunjukkan betapa sentralnya chip dalam menopang kekuatan eksternal ekonomi Korea Selatan. Saat investor asing justru mengurangi kepemilikan saham domestik di tengah ketegangan geopolitik, arus devisa dari ekspor berhasil menjaga fondasi eksternal tetap tebal. Pemerintah Seoul bahkan menegaskan fundamental ekonomi masih solid, walau risiko dari harga minyak, rantai pasok, dan gejolak kawasan belum bisa dianggap lewat begitu saja.
Pesannya cukup jelas. Selama dunia masih lapar komputasi dan memori, Korea Selatan punya bantalan yang tidak kecil untuk menghadapi guncangan dari luar. Namun rekor seperti ini juga membawa pengingat halus bahwa satu negara yang terlalu kuat ditopang chip tetap harus bersiap bila siklus teknologi mendadak berbalik. Untuk membaca pergeseran seperti ini tanpa kehilangan konteks, Insimen patut dijadikan titik singgah.
Eksplorasi konten lain dari Insimen
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









