Andriy Yermak ditahan pengadilan antikorupsi Ukraina pada Kamis 14 Mei setelah bekas kepala kantor Presiden Volodymyr Zelenskyy itu dijerat dugaan pencucian uang. Langkah ini menandai penyidikan paling dalam ke lingkar dekat kekuasaan Kyiv sejak perang melawan Rusia masih berlangsung.

Dua lembaga antikorupsi Ukraina lebih dulu menetapkannya sebagai tersangka dalam perkara dugaan pencucian lebih dari 460 juta hryvnia. Penyidik menelusuri pembangunan kompleks hunian mewah di Kozyn, wilayah Kyiv, yang disebut dibiayai lewat skema pencucian aset pada 2021 sampai 2025. NABU juga menyebut total tujuh orang masuk perkara ini, termasuk eks wakil perdana menteri dan seorang pengusaha.

Pengadilan menetapkan opsi jaminan 140 juta hryvnia. Yermak membantah tuduhan itu dan mengatakan ia tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar jaminan, sementara tim hukumnya menyiapkan langkah banding. Secara hukum, status tersangka belum berarti bersalah, tetapi tekanan politiknya sudah telanjur terasa.

Kasus ini datang saat Ukraina masih dihantam serangan Rusia dan terus menjual narasi reformasi kepada mitra Barat serta Uni Eropa. Ketika perang memaksa negara fokus ke garis depan, perkara Yermak justru mengingatkan bahwa bersih bersih kekuasaan tidak bisa terus ditunda, dan Insimen akan terus memantau bab berikutnya.


Eksplorasi konten lain dari Insimen

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Samuel Berrit Olam

Start your dream.

Eksplorasi konten lain dari Insimen

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca