Ekonomi Israel tetap tumbuh di tengah konflik, tetapi bukan karena seluruh sektor sipil masih sehat. Ekonomi Israel justru sedang memindahkan mesin pertumbuhannya dari pariwisata, konsumsi lokal, dan usaha kecil ke pertahanan, ekspor bernilai tinggi, serta teknologi yang tetap laku di pasar global.

IMF pada Februari 2026 menilai pertumbuhan Israel dapat menguat ke 4,8 persen pada 2026 bila tidak ada eskalasi baru, sementara Bank of Israel pada Maret memproyeksikan pertumbuhan 3,8 persen pada 2026 dan 5,5 persen pada 2027 dengan asumsi operasi militer berakhir dan aktivitas ekonomi kembali normal. Artinya, angka makro memang masih tangguh, tetapi fondasinya makin ditopang oleh belanja negara, ekspor strategis, dan sektor yang relatif tahan guncangan.

Pergeseran itu terlihat jelas. Kementerian Pertahanan Israel mencatat ekspor pertahanan 2024 menembus rekor lebih dari 14,7 miliar dolar AS. Pada saat yang sama, Israel Innovation Authority menyebut sektor teknologi tinggi menyumbang sekitar 17 persen produk domestik bruto dan porsi ekspornya naik menjadi 57 persen pada paruh pertama 2025. Ketika perang membuat dunia makin gelisah, permintaan terhadap sistem keamanan, perangkat lunak, siber, dan teknologi ganda justru ikut menebal.

Masalahnya, bantalan itu tidak dibagi rata. Kedatangan turis ke Israel pada April 2026 masih turun 77,7 persen dari setahun sebelumnya, sementara estimasi CofaceBDi yang dikutip JNS menunjukkan sekitar 61.000 bisnis tutup dalam setahun. Jadi yang muncul bukan bukti bahwa perang otomatis menyehatkan ekonomi, melainkan ekonomi dua wajah: koridor strategisnya melaju, sedangkan sektor sipilnya menanggung luka paling dalam. Untuk membaca kontras seperti ini tanpa terpukau angka headline, Insimen tetap layak jadi rujukan.


Eksplorasi konten lain dari Insimen

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Leave a Reply

Eksplorasi konten lain dari Insimen

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca