Gunung Dukono menutup bab paling tragis dari erupsi pekan ini setelah tim SAR gabungan menemukan dua korban terakhir pada hari ketiga pencarian, Minggu 10 Mei 2026. Dengan temuan itu, total korban meninggal menjadi tiga pendaki dan operasi pencarian resmi dihentikan, sementara 15 orang lain dinyatakan selamat.
Insiden ini terjadi setelah rombongan yang terdiri dari 20 pendaki tetap naik ke kawasan Gunung Dukono di Halmahera Utara meski status bahaya sudah tinggi dan jalur pendakian telah ditutup. BNPB menyebut dua korban warga negara Singapura berusia 30 dan 27 tahun ditemukan tidak jauh dari korban pertama, seorang pendaki perempuan warga Indonesia. Ketiganya berada sekitar 50 meter dari bibir kawah saat gunung meletus pada Jumat pagi dan melontarkan kolom abu hingga sekitar 10 kilometer.
Proses evakuasi berjalan lambat karena tubuh korban tertimbun material vulkanik tebal, sementara erupsi masih berlangsung fluktuatif. BNPB menegaskan larangan aktivitas di radius empat kilometer dari puncak kawah dan mengingatkan masyarakat untuk “tidak melakukan aktivitas di zona berbahaya demi keselamatan bersama.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di lapangan artinya sangat konkret ketika abu, batu pijar, dan pasir vulkanik masih terus keluar dari gunung aktif.
Tragedi ini juga membuka soal disiplin pendakian yang terlalu sering dianggap formalitas. Penutupan jalur Dukono sebenarnya sudah berlaku sejak 17 April 2026 dan pada 8 Mei dipertegas lagi lewat keputusan bupati. Saat alam sudah memberi tanda dan otoritas sudah memasang pagar aturan, nekat mendaki bukan lagi soal hobi, melainkan soal menghitung nyawa dengan gegabah. Di titik itu, Insimen melihat bencana ini bukan hanya kabar duka, tetapi juga pelajaran yang terlalu mahal.
Eksplorasi konten lain dari Insimen
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









