Baidu AI kini menjadi poros utama perusahaan setelah bisnis berbasis AI Baidu untuk pertama kalinya melampaui separuh pendapatan general business pada kuartal pertama 2026. Pergeseran ini penting bukan hanya bagi Baidu, tetapi juga bagi pembacaan yang lebih luas tentang bagaimana perusahaan internet China mulai mencari sumber pertumbuhan baru ketika pasar iklan digital belum benar-benar pulih.
Laporan kuartalan yang dirilis Senin, 18 Mei 2026, menunjukkan pertumbuhan paling kuat datang dari AI Cloud Infra dan aktivitas robotaxi Apollo Go. Di saat yang sama, bisnis pemasaran online masih turun tajam, sehingga hasil kuartal ini memperlihatkan dua cerita berjalan bersamaan: akselerasi monetisasi AI dan tekanan lama dari ekonomi domestik China yang masih lemah.
Baidu AI Mulai Menjadi Pusat Mesin Pertumbuhan
Perubahan paling penting dalam laporan ini bukan sekadar total pendapatan, melainkan komposisinya. Baidu kini bisa menunjukkan dengan angka bahwa lini yang dibangun di sekitar cloud AI, aplikasi AI, dan robotaxi tidak lagi berada di pinggir bisnis inti.
Bagi pembaca teknologi, ini menandai fase ketika narasi AI di perusahaan internet China mulai berpindah dari eksperimen produk menuju penataan ulang model bisnis. Baidu tidak hanya menjual kemampuan model atau aplikasi, tetapi juga menjual infrastruktur komputasi dan layanan yang dipakai perusahaan untuk menjalankan beban kerja AI.
Baidu AI Tembus Separuh Bisnis Umum
Dalam laporan resminya, Baidu menyebut pendapatan dari Core AI-powered Business mencapai 13,6 miliar yuan pada kuartal pertama 2026. Angka itu naik 49 persen dibanding periode yang sama tahun lalu dan setara 52 persen dari Baidu General Business.
Rasio tersebut penting karena setahun lalu kontribusi segmen yang sama masih 36 persen. Pada kuartal keempat 2025 porsinya naik ke 43 persen, lalu pada awal 2026 melampaui separuh. Artinya, pergeseran pendapatan tidak terjadi karena satu lonjakan sesaat, melainkan terlihat sebagai tren yang makin tegas dari kuartal ke kuartal.
Manajemen Baidu juga menekankan bahwa general business kembali tumbuh 2 persen secara tahunan. Itu memberi sinyal bahwa perusahaan mulai menemukan mesin pertumbuhan baru yang cukup besar untuk menutupi pelemahan unit lama. Bagi pasar, pesan utamanya sederhana: Baidu ingin dinilai bukan lagi semata sebagai perusahaan pencarian dan iklan.
Cloud Menjadi Motor Terbesar
Unit yang paling menonjol adalah AI Cloud Infra. Pendapatannya mencapai 8,8 miliar yuan pada kuartal pertama, naik 79 persen dari setahun sebelumnya. Di dalamnya, pendapatan GPU Cloud melonjak 184 persen.
Kenaikan setinggi itu menunjukkan bahwa permintaan AI enterprise kini lebih dekat ke lapisan komputasi daripada sekadar aplikasi antarmuka. Perusahaan yang membangun atau menjalankan model membutuhkan akses ke kapasitas komputasi, orkestrasi, dan infrastruktur pendukung. Baidu tampak berhasil menangkap permintaan tersebut dengan penawaran full-stack yang selama ini mereka bangun.
Namun, akselerasi cloud juga datang dengan konsekuensi biaya. Cost of revenue Baidu naik 7 persen dari kuartal sebelumnya, dan perusahaan secara eksplisit mengaitkannya dengan kenaikan biaya pada bisnis AI Cloud. Ini berarti pertumbuhan AI memang nyata, tetapi monetisasinya masih perlu dibaca bersama kebutuhan belanja infrastruktur yang besar.
Iklan Belum Pulih Saat Ekonomi China Melemah
Hasil Baidu menjadi menarik justru karena ia tidak menyajikan cerita kemenangan yang sepenuhnya mulus. Di belakang pertumbuhan AI, bisnis yang dulu menjadi tulang punggung perusahaan masih berada di bawah tekanan.
Reuters mencatat lemahnya belanja iklan di China berkaitan dengan ekonomi yang menantang, termasuk pasar properti yang masih lesu dan permintaan konsumen yang lemah. Konteks ini membantu menjelaskan mengapa Baidu sangat agresif menonjolkan pergeseran ke AI: perusahaan membutuhkan mesin pertumbuhan yang tidak terlalu tergantung pada siklus iklan tradisional.
Baidu AI Menang Di Tengah Lesunya Belanja Iklan
Pendapatan online marketing services Baidu turun menjadi 12,6 miliar yuan dari 16 miliar yuan pada periode yang sama tahun lalu. Dalam komposisi general business, iklan kini menyumbang 48 persen, turun dari 63 persen setahun sebelumnya.
Secara paralel, legacy business turun menjadi 10,2 miliar yuan, merosot 29 persen secara tahunan. Pergeseran ini mengonfirmasi bahwa bisnis lama memang terus kehilangan bobot, bukan hanya tersisih oleh pertumbuhan AI yang sangat tinggi, tetapi juga karena permintaan iklannya sendiri melemah.
Dari sudut editorial, ini membuat cerita Baidu jauh lebih penting daripada sekadar laporan laba rugi triwulanan. Baidu sedang memperlihatkan bagaimana perusahaan internet besar bisa bertahan saat pasar iklan goyah, yaitu dengan memindahkan pusat gravitasi bisnis ke cloud AI, agen produktivitas, dan layanan otomasi yang lebih dekat ke kebutuhan operasional pelanggan.
Laba Turun Meski Pendapatan Melampaui Perkiraan
Total pendapatan Baidu pada kuartal pertama mencapai 32,1 miliar yuan. Reuters menyebut angka itu berada di atas konsensus analis LSEG sebesar 31,35 miliar yuan, sehingga pasar menerima sinyal bahwa bisnis inti perusahaan masih tampil lebih baik dari perkiraan.
Meski begitu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada Baidu turun tajam menjadi sekitar 3,45 miliar yuan dari 7,72 miliar yuan setahun sebelumnya. Reuters mengaitkan penurunan ini dengan biaya yang lebih tinggi dan kerugian kurs, sementara laporan resmi Baidu juga menunjukkan biaya operasional masih besar di tengah dorongan AI.
Gambaran ini penting karena memperlihatkan tahap yang sedang dijalani banyak perusahaan AI saat ini. Pendapatan baru bisa tumbuh cepat, tetapi profitabilitas tidak selalu bergerak searah dalam jangka pendek. Investor biasanya akan membaca kuartal seperti ini sebagai ujian apakah pertumbuhan AI cukup kuat untuk mengompensasi margin yang lebih tertekan selama fase ekspansi.
Robotaxi Dan Aplikasi Memperluas Taruhan Baidu
Selain cloud, Baidu terus memakai hasil kuartalan untuk menegaskan bahwa strategi AI-nya tidak berhenti pada model dasar atau server. Perusahaan juga mendorong aplikasi produktivitas dan mobilitas otonom sebagai dua kanal monetisasi yang bisa memperluas jangkauan bisnisnya.
Itu membuat Baidu tampak berbeda dari pemain yang hanya menonjol di satu lapisan, misalnya cloud saja atau aplikasi saja. Di atas kertas, Baidu sedang mencoba merangkai narasi bahwa mereka punya rantai nilai AI yang lebih lengkap, dari komputasi hingga layanan yang berhadapan langsung dengan pengguna akhir.
Robotaxi Baidu AI Terus Mengumpulkan Skala
Pada kuartal pertama 2026, Apollo Go mencatat 3,2 juta perjalanan fully driverless. Jumlah itu naik lebih dari 120 persen dibanding setahun sebelumnya, dengan puncak perjalanan mingguan menembus 350 ribu pada Maret.
Perusahaan juga menyebut jumlah kumulatif perjalanan publik Apollo Go telah melampaui 22 juta pada April 2026. Sampai Mei 2026, jejak globalnya mencapai 27 kota. Bagi Baidu, angka ini penting karena memberi bukti bahwa robotaxi bukan lagi sekadar proyek demonstrasi, melainkan layanan yang sedang mengejar skala operasional.
Meski monetisasi robotaxi belum menjadi penopang laba utama, keberadaannya punya nilai strategis. Apollo Go membantu Baidu menunjukkan bahwa AI mereka bisa bergerak dari model dan aplikasi menuju sistem dunia nyata yang menuntut keselamatan, operasi armada, dan ekspansi lintas kota. Itu memberi dimensi diferensiasi yang tidak mudah ditiru oleh platform AI yang hanya bermain di ranah perangkat lunak.
Aplikasi Agen Jadi Jalur Monetisasi Berikutnya
Di sisi aplikasi, Baidu melaporkan pendapatan AI Applications sebesar 2,5 miliar yuan, relatif datar dibanding setahun lalu. Angka yang belum melonjak ini menunjukkan monetisasi aplikasi AI masih mencari bentuk, walau perusahaan terus menambah produk dan fitur baru.
Pada kuartal ini Baidu menonjolkan peluncuran DuMate untuk produktivitas harian, Miaoda 3.0 untuk vibe coding, Famou Agent 2.0 untuk agent yang berevolusi sendiri, serta peningkatan GenFlow 4.0 pada Wenku dan Baidu Drive. Sinyalnya jelas: Baidu ingin memperluas penggunaan AI dari pencarian dan chat ke alur kerja yang lebih konkret dan berulang.
Bagi pembaca Insimen, bagian ini layak diperhatikan karena menunjukkan bahwa perebutan pasar AI di China mulai masuk ke dua lapisan sekaligus. Di lapisan bawah, perusahaan berebut cloud, GPU, dan kapasitas inferensi. Di lapisan atas, mereka berebut tempat di alur kerja pengguna melalui agen, coding, produktivitas, dan otomasi. Baidu kini berusaha bermain di keduanya pada saat bersamaan.
Laporan kuartal pertama ini pada akhirnya menandai pergeseran identitas Baidu yang makin nyata. Saat iklan masih tertahan oleh lemahnya ekonomi China, Baidu AI justru tampil sebagai pusat pertumbuhan baru lewat cloud, robotaxi, dan rangkaian aplikasi agen. Pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah AI bisa menjadi bisnis inti Baidu, melainkan seberapa cepat pertumbuhan itu bisa diterjemahkan menjadi profit yang lebih stabil. Ikuti juga laporan teknologi global lain di Insimen untuk melihat bagaimana perlombaan AI mulai mengubah model bisnis perusahaan besar di berbagai sektor.
Eksplorasi konten lain dari Insimen
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









