Logistik Airbus membentuk nadi produksi pesawat Eropa yang terpecah, tetapi tetap bergerak serempak. Jaringan ini mengirim bagian pesawat yang berukuran raksasa menuju jalur perakitan akhir di Toulouse, Prancis, dengan ritme yang nyaris tanpa jeda.
Di balik pesawat yang tampak utuh, ada jutaan komponen kecil yang harus bertemu pada waktu yang tepat. Airbus mengandalkan sekitar 1.500 pemasok di 30 negara, lalu mengalirkan modul besar seperti sayap, fuselage, dan ekor lewat udara, laut, sungai, dan jalan raya.
Logistik Airbus Menyatukan Pabrik Spesialis Di Eropa
Airbus membagi pekerjaan besar menjadi potongan yang lebih masuk akal. Setiap lokasi produksi memegang keahlian yang berbeda, lalu fokus pada satu jenis bagian pesawat.
Pembagian itu membuat kapasitas meningkat, namun jarak membuat risiko ikut naik. Karena itu, Logistik Airbus harus memperlakukan setiap modul seperti komponen kritis, bukan sekadar kargo.
Logistik Airbus Mengatur Peta Produksi Lintas Negara
Pembuatan sayap berlangsung di Broughton, Wales, sementara beberapa bagian ekor diproduksi di Hamburg, Jerman. Di sisi lain, bagian tengah badan pesawat dan bagian hidung diproses di Saint Nazaire, Prancis.
Airbus juga menyiapkan lokasi di Cadiz, Spanyol, untuk komponen ekor horizontal. Pola ini terlihat sederhana di atas peta, namun eksekusinya menuntut penjadwalan yang sangat ketat.
Logistik Airbus lalu menautkan semua titik itu menuju Toulouse-Blagnac. Satu keterlambatan kecil bisa memicu antrean di jalur perakitan akhir, karena modul besar tidak mudah disisipkan di menit terakhir.
Jadwal Produksi Memaksa Presisi
Airbus menargetkan laju pengiriman yang tinggi, sekitar 700 pesawat per tahun. Pada fase perencanaan kapasitas, proyeksi pernah mengarah ke 1.000 pesawat per tahun, atau nyaris tiga pesawat per hari.
Target itu mendorong pabrik dan operator logistik bekerja dengan jam yang disiplin. Logistik Airbus memadukan waktu produksi enam sampai delapan bulan dengan perjalanan antarmoda selama sekitar 21 hari.
Dalam praktiknya, ruang kesalahan sering sangat sempit. Jendela operasi untuk beberapa tahapan bisa hanya tiga menit, sehingga kru harus menunggu cuaca, pasang surut, dan kondisi lalu lintas yang tepat.
Logistik Airbus Mengunci Ritme Perakitan Di Toulouse
Toulouse menjadi titik temu dari semua jalur ini, karena jalur perakitan akhir membutuhkan urutan kerja yang tetap. Ketika modul datang tidak lengkap, tim tidak bisa sekadar melompati tahap, karena struktur pesawat harus dibangun berlapis.
Data produksi menunjukkan skala tekanan jadwal itu. Pada 2017, jalur Toulouse menghasilkan hampir 80 unit A350 dan sedikitnya 15 unit A380, sehingga rata rata ada satu pesawat yang selesai tiap empat hari.
Angka tersebut membuat Logistik Airbus bertindak seperti pengatur lalu lintas, bukan sekadar pengirim barang. Sistem harus menjaga buffer yang tipis, namun tetap memberi ruang untuk inspeksi, pengujian, dan penanganan ulang bila ada temuan kualitas.
Beluga Menjadi Tulang Punggung Jalur Udara

Untuk mengejar waktu, Airbus mengandalkan pengangkutan udara bagi modul besar yang masih mungkin terbang. Di sinilah pesawat kargo Beluga berperan sebagai penghubung pabrik, bandara, dan hanggar.
Pendekatan ini membuat alur pasokan lebih cepat dibanding jalur darat atau laut murni. Namun, pendekatan ini juga menuntut prosedur bongkar muat yang presisi, karena setiap menit di apron punya biaya.
Logistik Airbus Mengandalkan Beluga Untuk Modul Utama
Beluga dirancang untuk memindahkan bagian terbesar yang masih bisa dimuat secara aman. Pesawat ini membawa kompartemen kargo bervolume sekitar 1.400 meter kubik, dengan dimensi bodi yang panjangnya 56 meter, rentang sayap 45 meter, dan tinggi sekitar 17 meter.
Pintu kargo setinggi sekitar 11 meter membuka seperti kap mobil, lalu memberi akses ke ruang muat yang sangat lebar. Beluga dapat membawa dua pasang sayap A320, atau satu sayap A350. Ukuran satu sayap A320 saja hampir 23 meter panjangnya dan sekitar 10 meter lebarnya.
Kapasitas angkutnya mencapai 45 ton kargo, dengan bobot lepas landas sekitar 145 ton. Logistik Airbus mengoperasikan armada kecil, hanya lima unit, dan semuanya bekerja khusus untuk kebutuhan internal jaringan produksi.
Beluga Lahir Dari Modifikasi A300-600
Beluga bukan pesawat kargo biasa yang hanya diberi pintu lebih lebar. Airbus mengambil basis A300-600, lalu memotong badan pesawat di level lantai kabin agar ruang muat terbuka.
Tim rekayasa memasang silinder kargo berukuran besar di atas struktur lama, sehingga diameter badan pesawat meningkat drastis. Di saat yang sama, kokpit diposisikan lebih rendah, supaya hidung pesawat dapat terbuka lebar tanpa mengganggu ruang pilot.
Pilihan desain itu muncul karena Airbus beroperasi sebagai perusahaan lintas negara. Beluga memberi jalur tercepat untuk memindahkan modul besar ke pusat perakitan, sehingga Logistik Airbus bisa menjaga tempo produksi harian.
Prosedur Bongkar Muat Menit Demi Menit
Operasi Beluga tidak berhenti pada pendaratan. Kru menempatkan pesawat dengan penarik khusus, lalu menutup pintu hanggar raksasa untuk melindungi proses dari angin dan hujan.
Teknisi memakai silinder bertekanan untuk menstabilkan pesawat, sehingga posisi tetap rata dan berada di ketinggian yang sama. Langkah ini penting, karena satu muatan bisa berbobot 15 sampai 20 ton.
Di salah satu titik perakitan akhir, operator mencatat sekitar 60 pendaratan Beluga setiap bulan. Angka itu menggambarkan intensitas Logistik Airbus, karena sayap dan modul badan pesawat harus tiba sebelum slot kerja berikutnya dibuka.
Jalur Laut, Sungai, Dan Konvoi Malam Menguji Ketahanan

Tidak semua bagian pesawat bisa melewati jalur udara. Ketika ukuran modul melampaui batas Beluga, Airbus memindahkan beban ke laut, sungai, dan jalan, dengan kombinasi kapal khusus, tongkang, dan truk raksasa.
Skema ini terlihat lambat, namun skema ini memberi ruang untuk modul yang benar benar besar. Di saat yang sama, Logistik Airbus harus mengelola risiko cuaca ekstrem, jembatan sempit, dan tikungan tajam di kota kecil.
MPV 96 Roda Memindahkan Modul Dari Kapal Ke Tongkang
Untuk modul A380, keterbatasan dimensi memaksa Airbus memulai pengiriman laut sejak 2004. Hamburg kemudian berkembang sebagai salah satu pelabuhan ekspor utama, sekaligus simpul layanan pengapalan eksklusif sejak 2000-an.
Di pelabuhan, kru memakai multi purpose vehicle atau MPV, sebuah platform sepanjang sekitar 35 meter yang bergerak di atas 96 roda. Sistem hidrolik mengangkat bagian pesawat dari kapal, lalu menurunkannya ke tongkang, dengan tenaga mesin yang setara truk.
Setelah itu, tongkang sepanjang sekitar 75 meter membawa muatan menuju jalur sungai. Tiga mesin, dua di belakang dan satu di depan, membantu kapten mengarahkan tongkang dan memosisikan kapal hingga toleransi sekitar 20 sentimeter.
Logistik Airbus Mengawal Rute Sungai Hingga Bordeaux
Perjalanan sungai menuntut disiplin navigasi. Dalam salah satu etape, konvoi air mencapai jembatan Pont de Pierre di Bordeaux setelah sekitar empat jam berlayar, lalu menghadapi titik paling berbahaya pada rute tersebut.
Jembatan bersejarah itu dibangun pada 1810 pada masa Napoleon Bonaparte. Panjangnya sekitar 500 meter dengan 17 lengkung, sementara salah satu lengkung hanya sekitar 19 meter lebar, sehingga margin untuk tongkang tinggal sekitar satu meter di tiap sisi.
Di beberapa segmen, tongkang harus melewati jembatan rendah di Sungai Garonne. Operator memakai platform angkat yang bisa turun naik seperti lift barang, dengan empat titik penyangga dan kabel, supaya muatan bisa merunduk saat melintas.
Cuaca juga bisa berubah cepat. Pada kondisi tertentu, gelombang laut dapat mencapai tiga sampai lima meter, sehingga jadwal pengapalan harus menyesuaikan. Logistik Airbus lalu menempatkan perencanaan sebagai komponen yang sama pentingnya dengan baja dan komposit.
Konvoi Jalan Raya Menjaga Muatan Bernilai Puluhan Juta Euro
Ketika muatan turun dari sungai dan masuk jalur darat, tantangan baru muncul. Truk oversized membawa bagian pesawat di tengah malam, karena konvoi besar tidak bisa mengambil ruang jalan pada jam padat.
Koordinasi darat berjalan terpusat dari pusat kendali. Tim menutup jalan per segmen 5 sampai 30 kilometer, lalu memblokir lalu lintas umum, dengan lebih dari 40 penghalang dan sekitar 120 papan pesan variabel. Konvoi bahkan bisa mulai tepat pukul 22.00.
Pengemudi harus mengantisipasi putaran di bundaran dan persimpangan. Ujung sayap dapat berayun jauh ke kanan atau kiri, lalu melintas sangat dekat dengan lampu jalan. Sebuah sayap bisa menjulur sekitar 15 meter di belakang truk, sehingga risiko benturan meningkat.
Bagian yang paling membuat tim waspada adalah sayap A380, yang panjangnya bisa lebih dari 30 meter dan tingginya sekitar 15 meter saat diangkut. Logistik Airbus menyesuaikan kecepatan, radius belok, dan jarak aman agar sayap tidak menyapu rambu atau kabel.
Taruhannya tinggi. Nilai sepasang sayap bisa mencapai sekitar 40 juta euro, sehingga satu kesalahan kecil dapat berubah menjadi kerugian besar. Di titik ini, Logistik Airbus memadukan pengawalan, rekayasa rute, dan koordinasi lokal untuk menjaga ritme produksi.
Pada akhirnya, semua moda itu bertemu di Toulouse, lalu berubah menjadi pesawat yang siap uji terbang. Pembaca dapat melanjutkan ke artikel terkait di Insimen untuk melihat dampak rantai pasokan global pada industri dan bisnis di Asia.









