Tesla resmi kehilangan posisi sebagai produsen mobil listrik terbesar dunia. Penyebab utamanya sederhana tapi menyakitkan. Penjualan tahunan Tesla turun untuk tahun kedua berturut turut, sementara BYD dari China melaju dan mengambil alih mahkota.

Di lapangan, tekanannya datang dari banyak arah. Persaingan EV makin rapat, bukan cuma dari pemain besar China tetapi juga dari merek lain yang agresif mengisi segmen harga. Di Amerika Serikat, berakhirnya sebagian insentif pajak EV ikut membuat keputusan beli jadi lebih sensitif terhadap harga. Di saat yang sama, sentimen merek juga punya efeknya sendiri. Ketika minat konsumen melunak, angka pengiriman langsung jadi cermin yang tidak bisa dibantah.

Sorotan terbesar jatuh pada performa kuartal empat yang lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Total pengiriman setahun penuh juga tercatat lebih rendah dibanding 2024. Untuk perusahaan yang selama ini identik dengan narasi pertumbuhan, kombinasi dua angka itu terasa seperti sinyal bahwa mesin permintaan tidak lagi sehalus dulu.

Advertisements

Namun ada dinamika lain yang membuat cerita ini tidak berhenti di delivery. Sebagian investor terlihat lebih terpaku pada bab masa depan Tesla, mulai dari robotaxi, Optimus, sampai teknologi self driving. Di kalangan pasar, kalimat yang sering terdengar kurang lebih begini. “Angka pengiriman penting, tapi cerita berikutnya yang menentukan valuasi.” Akibatnya, penurunan delivery dinilai mengganggu, tetapi tidak otomatis mengakhiri optimisme jangka panjang.

Di bursa, saham Tesla sempat melemah pada hari pengumuman itu, meski performa tahunan masih tercatat positif. Tesla kini menghadapi ujian klasik. Membuktikan bahwa visi masa depan bisa berjalan seiring dengan realitas penjualan hari ini. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply