Penganiayaan di Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, membuat Darwin, 32 tahun, dan istrinya mengalami luka setelah konflik soal suara drum yang tak kunjung reda. Dua terduga pelaku ternyata ayah berinisial DBTS dan anaknya, yang disebut ikut memukul saat situasi memanas.
Cerita bermula ketika anak DBTS kerap memainkan drum dengan volume tinggi. Darwin mengaku sudah menegur berkali kali, tetapi kebiasaan itu tetap terjadi. Pada hari kejadian, istri Darwin menegur langsung dan justru mendapat makian. Darwin lalu pulang untuk membela istrinya, lalu adu mulut berubah menjadi kontak fisik.
Di tengah ketegangan, DBTS datang menggunakan mobil. Darwin menyebut mobil itu menyerempet istrinya sampai jatuh ke aspal. Saat Darwin bergerak untuk menolong, anak DBTS disebut mengambil lehernya dan memiting sampai Darwin jatuh dan terseret. Ketika Darwin sudah tidak berdaya, DBTS turun dari mobil dan ikut menyerang. Darwin mengatakan DBTS menendang pinggang dan bokongnya berulang kali, lalu menekan wajahnya ke aspal sampai napasnya sesak.
“Iya betul, dua duanya ikut mukul. Bapak dan anak itu,” kata Darwin. Ia juga menyebut intimidasi dan ancaman pembunuhan ikut muncul setelah pemukulan terjadi, yang membuat keluarganya merasa tidak aman di lingkungan sendiri.
Kasus ini menunjukkan satu hal yang sering luput, masalah kecil di gang sempit bisa berubah menjadi perkara besar saat emosi dibiarkan jadi sopir utama. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.









