Smart Air menjadi sorotan setelah penembak melepaskan tembakan ke pesawat sipil yang baru mendarat di Bandara Koroway Batu, Papua Selatan. Serangan itu menewaskan dua awak pesawat dan memaksa penumpang menyelamatkan diri ke hutan.
Insiden ini terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026, saat pesawat jenis Cessna Grand Caravan bernomor registrasi PK-SNR menyelesaikan pendaratan. Aparat menyebut pelaku menembak dari area hutan di salah satu sisi bandara, lalu menghilang.
Satgas Damai Cartenz menyatakan mereka bergerak cepat untuk mengamankan lokasi, mengevakuasi korban, dan memburu pelaku. Operasi itu berjalan di tengah kekhawatiran soal keselamatan penerbangan sipil di wilayah pedalaman yang bergantung pada akses udara.
Kronologi Serangan Di Bandara Koroway Batu
Bandara Koroway Batu berada di area pedalaman dengan perimeter yang dekat dengan tutupan hutan. Kondisi ini membuat garis pandang petugas terbatas dan membuka celah bagi penyerang untuk memilih posisi.
Data awal yang dihimpun aparat menggambarkan serangan yang terjadi dalam hitungan menit. Penyerang memanfaatkan momen setelah pesawat berhenti, ketika awak dan penumpang masih berada dalam fase transisi dari kabin ke area bandara.
Detik-Detik Smart Air Diserang Setelah Mendarat
Pesawat Smart Air mendarat sekitar pukul 11.17 WIT. Sesaat setelah roda pesawat menyentuh landasan dan pesawat berhenti, sekelompok orang yang belum teridentifikasi melepaskan tembakan dari arah hutan.
Tembakan itu mengarah ke badan pesawat yang baru selesai melakukan prosedur pendaratan. Situasi itu memicu kepanikan karena serangan terjadi di area yang seharusnya menjadi titik aman setelah penerbangan.
Pilot bernama Egon Erawan dan kopilot bernama Baskoro segera mengupayakan evakuasi diri bersama penumpang. Mereka meninggalkan pesawat dan berusaha menjauh dari landasan, karena tembakan masih terdengar dari arah yang sama.
Petugas kemudian menemukan jenazah Egon dan Baskoro di sekitar area landasan pacu. Aparat menduga peluru mengenai keduanya ketika mereka berusaha melarikan diri dari titik tembakan.
Pelarian Penumpang Dan Titik Persembunyian
Sebanyak 13 penumpang berada dalam pesawat saat serangan terjadi. Mereka keluar dari kabin dan memilih bergerak ke arah hutan untuk mencari perlindungan, karena area terbuka di sekitar landasan membuat mereka rentan.
Para penumpang itu bersembunyi di area hutan yang posisinya berseberangan dengan arah tembakan. Pilihan arah itu menunjukkan mereka mencoba menjauh dari jalur pandang penyerang dan memutus kemungkinan pelaku mengunci sasaran.
Proses penyelamatan penumpang berlangsung dalam kondisi yang tidak stabil. Aparat harus memastikan penembak tidak bergerak mendekat, sekaligus menenangkan penumpang yang tersebar di area semak dan pepohonan.
Satgas kemudian mengevakuasi para penumpang yang selamat setelah situasi dinilai lebih terkendali. Fokus petugas bergeser dari penyelamatan darurat ke pengamanan perimeter, agar pelaku tidak memanfaatkan celah kedua.
Satgas Damai Cartenz Perluas Pengejaran Smart Air
Satgas Damai Cartenz memandang serangan terhadap Smart Air sebagai eskalasi serius, karena pelaku menyasar penerbangan sipil. Aparat menilai serangan ini bukan sekadar gangguan keamanan biasa, karena pelaku menargetkan awak dan penumpang yang tidak bersenjata.
Satgas juga menekankan aspek kemanusiaan dalam penerbangan tersebut. Mereka menyebut awak pesawat menjalankan tugas untuk melayani mobilitas masyarakat di wilayah pedalaman yang sangat bergantung pada transportasi udara.
Satgas Damai Cartenz Perketat Pengamanan Smart Air
Satgas Damai Cartenz mengerahkan personel untuk mengamankan lokasi pendaratan dan rute keluar masuk bandara. Petugas menyisir sisi hutan yang diduga menjadi titik tembak, karena arah tembakan mengindikasikan pelaku memanfaatkan tutupan vegetasi.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigadir Jenderal Faizal Ramadhani, menyampaikan duka dan menegaskan posisi aparat. Ia menyebut, “penembakan penerbangan sipil adalah kejahatan serius.”
Pernyataan itu menegaskan bahwa aparat akan menempatkan kasus ini sebagai prioritas penegakan hukum. Satgas juga menyatakan mereka mengejar pelaku agar proses hukum berjalan, bukan sekadar mendorong pelaku mundur dari lokasi.
Pengamanan di sekitar bandara menjadi kunci karena bandara itu memiliki ruang terbuka yang terbatas. Satgas berupaya memperkecil ruang gerak pelaku dengan patroli di titik yang mengarah ke landasan, jalur semak, dan akses keluar masuk.
Evakuasi Korban Dan Tahap Awal Proses Hukum
Satgas Damai Cartenz mengevakuasi korban dari sekitar landasan pacu. Petugas menyiapkan jalur aman agar evakuasi tidak terhambat oleh risiko tembakan lanjutan atau pergerakan pelaku di sekitar area.
Petugas juga mengamankan area pesawat untuk kepentingan penyelidikan. Langkah ini biasanya mencakup pemetaan titik tembak, pemeriksaan jejak proyektil, dan penelusuran arah pergerakan pelaku melalui jejak di tanah atau jalur semak.
Koordinasi lintas unsur menjadi bagian penting karena lokasi berada di wilayah pedalaman. Aparat perlu menyatukan informasi dari petugas bandara, kru penerbangan, dan penumpang yang selamat untuk menyusun kronologi yang presisi.
Satgas menyatakan mereka menjalankan perburuan pelaku seiring pengamanan lanjutan di sekitar bandara. Aparat juga menyiapkan skema penguatan, karena penembakan di area terbuka sering kali memicu risiko serangan susulan jika pelaku merasa terdesak.
Dampak Keamanan Penerbangan Sipil Di Papua
Serangan terhadap pesawat sipil menimbulkan tekanan baru pada sistem konektivitas di pedalaman. Banyak wilayah mengandalkan pesawat kecil untuk membawa orang, logistik, dan layanan dasar, karena jalur darat sering sulit dan memakan waktu.
Insiden ini juga menempatkan bandara kecil sebagai titik rawan yang perlu perhatian ekstra. Ketika perimeter bandara berbatasan langsung dengan hutan, aparat perlu strategi pengamanan yang berbeda dari bandara kota, karena ancaman bisa muncul dari jarak dekat.
Operator Tinjau Risiko Rute Setelah Insiden Smart Air
Kasus Smart Air mendorong kebutuhan evaluasi risiko pada rute penerbangan pedalaman. Operator biasanya meninjau prosedur pendaratan, waktu operasi, dan koordinasi pengamanan bandara agar pesawat tidak masuk ke area rawan tanpa mitigasi.
Risiko terbesar muncul pada fase setelah pendaratan, ketika pesawat berhenti dan awak bersiap membuka akses kabin. Pada fase ini, pesawat belum sepenuhnya terlindungi, sementara penumpang belum berada di tempat aman.
Operator juga bisa menambah prosedur komunikasi sebelum pendaratan. Prosedur itu dapat mencakup konfirmasi status keamanan perimeter, pemantauan visual dari darat, serta kesiapan rute evakuasi jika muncul ancaman mendadak.
Namun, setiap langkah tambahan dapat menambah biaya dan kompleksitas, terutama bagi penerbangan perintis. Karena itu, aparat dan operator perlu menyusun cara yang realistis, supaya layanan tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan.
Dampak Ke Warga, Akses Layanan, Dan Rasa Aman
Serangan di bandara pedalaman dapat memengaruhi rasa aman warga yang bergantung pada penerbangan. Ketika penerbangan terganggu, distribusi barang dan mobilitas warga bisa melambat, terutama di wilayah yang minim alternatif transportasi.
Kejadian ini juga memberi beban psikologis bagi penumpang yang selamat. Mereka harus bersembunyi di hutan dalam kondisi genting, lalu menunggu aparat memastikan situasi aman sebelum evakuasi berjalan.
Bagi aparat, kasus ini menambah urgensi pengamanan bandara kecil sebagai infrastruktur vital. Petugas perlu menyeimbangkan dua target sekaligus, yaitu menjaga operasional layanan dan mencegah pelaku menggunakan celah yang sama.
Di sisi lain, penanganan yang cepat dapat menahan efek domino yang lebih besar. Ketika aparat cepat mengamankan penumpang dan mengejar pelaku, publik bisa melihat bahwa negara hadir, walau tantangannya berat di wilayah pedalaman.
Satgas Damai Cartenz kini memusatkan perhatian pada pemburuan pelaku dan pemulihan rasa aman setelah penembakan Smart Air di Papua Selatan. Kamu bisa lanjut baca artikel terkait lain di Insimen supaya kamu dapat gambaran lengkap soal perkembangan kasus ini dan langkah pengamanan berikutnya.









