Pengangguran di Indonesia kembali menjadi sorotan nasional. Menurut laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2025 jumlah pengangguran terbuka mencapai 7,28 juta orang, setara dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,76 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa meski ekonomi nasional tumbuh moderat, pasar kerja belum cukup kuat menyerap tambahan tenaga kerja baru, terutama dari kalangan muda dan lulusan perguruan tinggi.
Tren Terbaru dan Kondisi Nasional
Jumlah angkatan kerja Indonesia kini menembus 153 juta orang, meningkat sekitar 3,6 juta dibanding tahun sebelumnya. Dari total tersebut, sekitar 145 juta orang telah bekerja. Namun, peningkatan angkatan kerja yang pesat tidak diimbangi dengan pertumbuhan lapangan kerja formal yang memadai.
Kondisi ini membuat sebagian besar tenaga kerja baru beralih ke sektor informal. BPS mencatat bahwa lebih dari 56 persen pekerja berada di sektor non-formal, yang kerap identik dengan upah rendah, jam kerja panjang, dan minim perlindungan sosial.
Sementara itu, kelompok usia muda menjadi yang paling rentan. TPT usia 15–24 tahun mencapai lebih dari 16 persen, jauh di atas rata-rata nasional. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengangguran muda masih menjadi persoalan mendasar dalam struktur ketenagakerjaan Indonesia.
Tantangan Serius bagi Lulusan Perguruan Tinggi
Ketimpangan Kompetensi dan Kebutuhan Pasar
Salah satu penyumbang meningkatnya angka pengangguran adalah ketidaksesuaian kompetensi (mismatch) antara keahlian lulusan dan kebutuhan industri.
Banyak lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan akademik kuat, tetapi tidak selalu sesuai dengan tuntutan teknis dunia kerja yang semakin berbasis digital dan praktis.
Universitas Gadjah Mada menilai bahwa masalah utama bukan hanya ketersediaan lapangan kerja, melainkan juga kualitas kesesuaian antara pendidikan dan industri.
Perusahaan kini mencari tenaga yang siap pakai, sementara banyak lulusan membutuhkan waktu adaptasi panjang. Akibatnya, sebagian memilih pekerjaan tidak sesuai bidang, bahkan beralih ke sektor informal untuk bertahan hidup.
Keterbatasan Pengalaman dan Peluang
Selain ketidaksesuaian kompetensi, banyak perusahaan masih mensyaratkan pengalaman kerja, bahkan untuk posisi entry-level. Hal ini menciptakan lingkaran sulit: lulusan baru sulit bekerja karena belum berpengalaman, tetapi tidak bisa memperoleh pengalaman karena tak diterima bekerja.
Situasi tersebut memperparah angka pengangguran terselubung, di mana lulusan bekerja di bawah tingkat kemampuan mereka. Banyak yang akhirnya memilih pekerjaan paruh waktu, menjadi pekerja lepas, atau membuka usaha kecil tanpa dukungan memadai.
Struktur Ekonomi yang Masih Rapuh
Sektor Informal Mendominasi
Dominasi sektor informal menjadi ciri khas ekonomi Indonesia. Dari sekitar 145 juta pekerja, lebih dari 86 juta orangbekerja di sektor informal.
Mereka sering kali tidak memiliki kontrak tertulis, jaminan sosial, atau perlindungan hukum. Kondisi ini berimplikasi pada rendahnya kualitas pekerjaan dan produktivitas nasional.
Pemerintah telah menginisiasi berbagai program padat karya serta pelatihan vokasional, namun sebagian masih bersifat jangka pendek dan belum menjawab akar permasalahan struktural.
Distribusi Lapangan Kerja Tidak Merata
Lapangan kerja formal masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan sektor industri besar. Sementara daerah-daerah dengan ketergantungan tinggi pada sektor pertanian masih sulit beralih ke pekerjaan modern.
Kesenjangan antar-wilayah menyebabkan banyak pekerja muda memilih migrasi ke kota besar, memperburuk tekanan di pasar kerja urban seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Upaya Pemerintah dan Strategi Penanganan
Mendorong Link and Match antara Kampus dan Industri
Kementerian Ketenagakerjaan serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah memperkuat sinergi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja.
Program seperti Kampus Merdeka – Magang Bersertifikat dan Matching Fund terus diperluas untuk mempercepat transisi dari bangku kuliah ke dunia profesional.
Langkah ini diharapkan mampu menekan angka pengangguran intelektual dan menciptakan lebih banyak talenta siap kerja di sektor digital, manufaktur, serta ekonomi hijau.
Peningkatan Lapangan Kerja Formal
Pemerintah juga mendorong investasi di sektor padat karya seperti tekstil, elektronik, dan industri hilirisasi nikel. Reformasi birokrasi perizinan dan kebijakan fiskal diarahkan untuk menarik investor agar membuka lebih banyak lapangan kerja formal.
Selain itu, program wirausaha muda dan pembiayaan UMKM terus diperkuat melalui lembaga seperti Bank Indonesia dan BUMN pembiayaan mikro.
Masa Depan Pasar Kerja Indonesia
Para ekonom menilai, masa depan ketenagakerjaan Indonesia bergantung pada dua faktor utama: kualitas pendidikan vokasi dan kecepatan adaptasi digital.
Otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) akan mengubah banyak jenis pekerjaan dalam lima tahun ke depan. Oleh karena itu, kemampuan upskilling dan reskilling menjadi kunci utama agar tenaga kerja tidak tertinggal.
Selain itu, penting bagi perusahaan untuk berinvestasi dalam pelatihan berkelanjutan, sementara lembaga pendidikan harus memperbarui kurikulum sesuai kebutuhan industri masa depan.
Naiknya angka pengangguran menjadi 7,28 juta orang dengan TPT 4,76 persen bukan hanya statistik ekonomi, melainkan sinyal serius bagi arah kebijakan nasional.
Tantangan ini menuntut langkah kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor industri agar Indonesia tidak sekadar mencetak lulusan, tetapi membangun tenaga kerja yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing global.
Untuk analisis lebih dalam mengenai transformasi pasar kerja dan program peningkatan kompetensi nasional, pembaca dapat melanjutkan ke artikel terkait di Insimen News.









