Iran diguncang gelombang protes besar sejak akhir Desember 2025 saat tekanan ekonomi menembus batas. Yang awalnya terdengar seperti keluhan klasik soal harga, cepat berubah menjadi pertanyaan paling berbahaya bagi sebuah rezim. Apakah sistem yang ada masih layak memimpin.

Pemicunya muncul dari pusat ekonomi tradisional. Pedagang Grand Bazaar Teheran menutup toko karena nilai rial jatuh tajam sampai penetapan harga terasa seperti perjudian. Efek domino terjadi cepat. Pekerja, mahasiswa, dan warga di banyak kota ikut bergerak. Dalam hitungan hari, aksi menyebar luas hingga ratusan kota di 31 provinsi, lalu tuntutan bergeser dari stabilisasi kebutuhan pokok menjadi penolakan terhadap simbol kekuasaan teokratis.

Di balik jalanan yang memanas, struktur negara membuat koreksi dari dalam terasa buntu. Iran memadukan pemilu dengan kendali teokrasi yang sangat terpusat. Pemimpin tertinggi memegang pengaruh besar atas arah politik, militer, peradilan, dan ruang publik. Presiden dan parlemen tetap ada, tetapi mekanisme penyaringan kandidat dan kontrol ideologis mempersempit jalur oposisi. Dalam situasi ekonomi yang memburuk, desain seperti ini membuat frustrasi publik menumpuk tanpa katup pelepas.

Advertisements

Kondisi ekonomi ikut mengunci kemarahan. Pembatasan ekspor minyak, isolasi sistem keuangan, salah kelola, dan korupsi mendorong pelemahan mata uang dan inflasi. Inflasi tahunan disebut sekitar 42 persen, sementara inflasi makanan sekitar 72 persen. Kurs dolar di pasar pernah bergerak di kisaran 1,38 juta sampai 1,45 juta rial. Tekanan sosialnya berat. Sekitar 60 persen populasi disebut hidup di bawah garis kemiskinan dan sekitar 40 persen warga kesulitan membeli daging atau produk susu secara rutin.

Pemerintah merespons dengan garis keras. Akses internet diputus hampir total pada 8 Januari 2026 untuk memutus koordinasi dan menahan arus informasi. Penangkapan massal dan kekerasan aparat memperbesar eskalasi, lalu narasi campur tangan asing kembali dipakai sebagai pembenaran. Ketika protes 2022 berputar pada isu sosial, gelombang 2025 menempel pada urusan dapur hampir semua lapisan. Itu yang membuatnya lebih menakutkan bagi penguasa.

Ironinya sederhana. Saat rakyat meminta harga kembali masuk akal, negara memilih mematikan sinyal dan menyalakan represi. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply