Protes Iran memasuki fase paling menegangkan ketika demonstrasi meluas dari isu ekonomi menjadi penolakan langsung terhadap pemerintahan ulama. Laporan terbaru menilai tekanan domestik dan tekanan eksternal sama sama meningkat, tetapi tidak muncul retakan di puncak elite keamanan yang bisa mengubah arah kekuasaan dalam waktu dekat.
Situasi ini menempatkan Iran pada dua jalur yang berjalan bersamaan. Publik memperluas tuntutan, sementara institusi keamanan memperketat kontrol. Analis yang mengikuti dinamika internal menilai faktor penentu tetap berada pada loyalitas aparat, bukan hanya pada besarnya gelombang massa.

Arsitektur keamanan berlapis yang menutup celah runtuh
Struktur keamanan Iran bekerja seperti rangka berlapis yang saling menguatkan. Garda Revolusi Iran dan Basij berperan sebagai jangkar yang menjaga stabilitas rezim saat tekanan publik naik. Penilaian ini menekankan bahwa sistem tersebut terbentuk lama, tertanam di institusi negara, dan memiliki jaringan komando yang disiplin.
Sejumlah pengamat juga menyoroti skala personel yang besar sebagai faktor penahan guncangan. Dalam hitungan yang beredar di kalangan sumber, gabungan Garda Revolusi dan Basij disebut mendekati satu juta personel. Angka ini menjadi konteks penting karena kapasitas pengerahan memberi rezim ruang untuk mengatur respons di banyak kota sekaligus.
Di sisi lain, ketahanan institusi tidak otomatis berarti negara berada dalam kondisi stabil. Ketika tekanan ekonomi berlanjut, rezim bisa tetap bertahan, namun biaya sosial dan politik cenderung meningkat. Kerangka keamanan dapat menahan perubahan cepat, tetapi kerangka itu juga bisa memperdalam jarak antara negara dan masyarakat jika penindakan terus berjalan.
Korban, penahanan, dan problem verifikasi angka
Protes Iran memunculkan perbedaan besar dalam angka korban. Seorang pejabat Iran menyampaikan kepada Reuters bahwa sekitar 2.000 orang tewas, lalu pejabat itu menyalahkan pihak yang ia sebut teroris atas kematian warga sipil dan personel keamanan. Pada saat yang sama, kelompok hak asasi manusia melaporkan angka yang lebih rendah dan menyebut proses verifikasi masih berjalan.
HRANA melaporkan verifikasi kematian yang mencakup korban dari pihak pengunjuk rasa dan personel keamanan, serta menyebut penahanan mencapai lebih dari 10.000 orang. Namun, pemerintah Iran tidak merilis angka resmi menyeluruh, dan verifikasi independen tetap menjadi tantangan karena keterbatasan akses dan ketatnya kontrol informasi.
Kondisi ini menciptakan ruang narasi yang saling bertabrakan. Negara menekankan ancaman keamanan, sementara kelompok hak asasi menekankan proporsionalitas penggunaan kekuatan dan akuntabilitas penegakan hukum. Dalam situasi yang bergerak cepat, publik juga menghadapi kesulitan memilah informasi yang valid ketika pembatasan internet meningkat.
Titik balik bergantung pada durasi dan pembelotan aparat
Protes Iran bermula pada 28 Desember ketika kenaikan harga dan tekanan ekonomi memicu kemarahan publik. Seiring waktu, fokus protes bergeser ke penolakan terhadap pemerintahan ulama. Pergeseran tuntutan ini menaikkan taruhan politik dan memaksa negara merespons dengan pendekatan keamanan yang lebih keras.
Analis menilai rezim cenderung bertahan bila pembelotan elite tidak terjadi. Artinya, ukuran demonstrasi penting, tetapi perubahan politik besar biasanya membutuhkan perpindahan loyalitas dari bagian aparatur yang memegang kendali koersif. Pada tahap ini, penilaian yang dominan belum menemukan sinyal retak di tingkat puncak.
Durasi Protes Iran sebagai variabel penentu
Durasi protes menjadi variabel yang menentukan karena ia menguji stamina massa, solidaritas komunitas, dan kapasitas logistik gerakan. Bila aksi bertahan lama, tekanan ekonomi harian juga berpotensi menambah partisipasi, terutama saat biaya hidup terus naik dan lapangan kerja melemah.
Namun, durasi yang panjang juga memberi waktu bagi negara untuk menyesuaikan taktik. Aparat dapat memecah konsentrasi massa, membatasi koordinasi, dan menekan simpul penggerak. Dalam banyak kasus, kemampuan rezim untuk mengatur ritme eskalasi menentukan apakah protes berubah menjadi momentum politik yang tidak bisa dibalik.
Di sisi lain, tekanan yang berkepanjangan dapat memperdalam krisis legitimasi. Ketika penindakan berlangsung terus menerus, persepsi publik terhadap keadilan dan keterwakilan politik dapat menurun. Dampaknya tidak selalu langsung menjatuhkan rezim, tetapi ia dapat menumpuk sebagai beban jangka menengah.
Pembelotan aparat sebagai pemicu perubahan rezim
Sejumlah pandangan menempatkan pembelotan aparat keamanan sebagai syarat paling kritis bagi perubahan rezim. Logika ini berangkat dari fakta bahwa rezim yang tahan guncangan biasanya memiliki institusi koersif yang solid, terlatih, dan memiliki kepentingan langsung dalam kelangsungan sistem.
Jika sebagian aparat memilih mundur dari garis komando, rezim menghadapi dua risiko sekaligus. Risiko pertama adalah penurunan kapasitas kontrol lapangan. Risiko kedua adalah efek psikologis yang dapat mendorong aktor lain di birokrasi untuk mengambil jarak. Namun, penilaian terbaru masih menempatkan kohesi elite keamanan sebagai faktor dominan yang menjaga status quo.
Kohesi itu juga menjelaskan mengapa tekanan luar sering gagal bila ia tidak bertemu friksi internal. Struktur yang loyal dan tertanam lama membuat pemaksaan dari luar sulit berhasil tanpa perpecahan dari dalam. Dalam kerangka ini, Protes Iran menghadapi hambatan institusional yang kuat, meski intensitas publik meningkat.

Tekanan eksternal meningkat, risiko fragmentasi ikut naik
Tekanan eksternal terhadap Iran bertambah melalui kombinasi sanksi, isolasi, dan ancaman tindakan keras. Laporan terbaru juga menyinggung dampak serangan dan kampanye tekanan yang menargetkan aset strategis Iran, serta tekanan ekonomi yang menghambat pemulihan. Selain itu, posisi jaringan proksi regional Iran disebut melemah akibat kerugian di beberapa medan konflik.
Namun, tekanan eksternal membawa dilema. Jika tekanan terlalu keras, ia dapat memberi rezim alasan untuk memobilisasi nasionalisme dan menstigma oposisi sebagai instrumen asing. Sebaliknya, jika tekanan terlalu lunak, ia tidak mengubah kalkulasi elite yang memegang kendali keamanan.
Peran Donald Trump dalam eskalasi retorika dan opsi
Dalam perkembangan terbaru, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan agar demonstran terus melakukan aksi dan mendorong pengambilalihan institusi, sambil menyatakan bantuan akan datang. Seorang pejabat Gedung Putih juga menyatakan semua opsi tersedia.
Trump juga mengangkat ancaman tarif terhadap negara yang berdagang dengan Iran, di tengah posisi China sebagai mitra dagang utama Iran dalam banyak pembacaan pasar. Sikap ini memperluas spektrum tekanan dari ranah keamanan ke ranah perdagangan, yang berpotensi memicu konsekuensi global bila eskalasi berlanjut.
Di sisi lain, pembahasan di kanal diplomasi keamanan terus berjalan. Reuters melaporkan konteks komunikasi tingkat tinggi yang menyinggung kewaspadaan Israel terhadap kemungkinan intervensi Amerika Serikat, serta kalkulasi respons Iran bila serangan terjadi.
Risiko intervensi asing dan gagasan “model Venezuela”
Sebagian kalangan membahas gagasan yang sering disebut sebagai “model Venezuela”, yaitu penghapusan otoritas puncak lalu pemberian sinyal kepada aparatur negara agar tetap bekerja bila mereka bekerja sama. Namun, penerapan gagasan itu di Iran menghadapi hambatan besar karena kohesi institusi yang kuat, skala negara yang besar, serta kompleksitas etnis dan geografis.
Sejumlah pejabat regional dan analis juga memperingatkan bahwa aksi militer asing dapat memicu fragmentasi melalui garis etnis dan sektarian. Mereka menyoroti wilayah Kurdi dan wilayah Balush Sunni sebagai area yang berisiko karena sejarah resistensi dan sensitivitas identitas.
Dalam daftar opsi, tekanan maritim atas pengiriman minyak, serangan militer terbatas yang terarah, serta serangan siber disebut sebagai kemungkinan. Namun, setiap opsi membawa risiko besar, termasuk risiko pembalasan regional dan risiko perluasan konflik. Karena itu, muncul pula opsi non kekerasan seperti pemulihan akses internet melalui layanan satelit agar pengunjuk rasa dapat berkomunikasi.
Di tahap ini, Protes Iran menempatkan Iran pada persimpangan yang sulit. Rezim menunjukkan ketahanan karena arsitektur keamanan berlapis dan karena belum ada pembelotan elite, sementara tekanan ekonomi dan tekanan geopolitik terus menambah beban negara. Pembaca dapat melanjutkan dengan membaca artikel terkait di Insimen yang membahas dampak sanksi terhadap stabilitas kawasan dan strategi komunikasi publik saat krisis politik.









