Ketegangan memuncak setelah tanker minyak Venezuela disita Amerika Serikat saat kapal itu membawa muatan besar minyak mentah menuju China. Washington menyebut kapal tersebut terkait jaringan pengapalan terselubung yang dipakai untuk menghindari sanksi, lengkap dengan praktik memalsukan identitas kapal dan mematikan pelacak.
Kapal yang disebut Centuries itu dilaporkan memuat sekitar 1,8 juta barel minyak mentah Merey. Dokumen pelayaran menunjukkan kapal sempat beroperasi dengan nama lain, Crag, sebelum akhirnya dicegat Penjaga Pantai AS di perairan internasional. Di balik muatan itu, pola bisnis yang disorot AS bukan sekadar satu perjalanan. Ini tentang rantai penjualan yang memakai perantara untuk menyalurkan minyak PDVSA ke kilang independen di China, lalu membuat asal usul muatan terlihat lebih samar saat tiba di tujuan.
China bereaksi cepat dan keras. Beijing menilai penyitaan kapal negara lain sebagai bentuk penindakan sepihak yang melebar ke luar yurisdiksi. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyebut langkah itu “pelanggaran serius hukum internasional” dan menolak logika sanksi sepihak yang dianggap tidak punya dasar mandat global. Venezuela juga tak kalah lantang. Caracas menyebut intersepsi tersebut sebagai “pembajakan internasional” dan memberi sinyal akan mengangkat isu ini ke forum internasional.
Konsekuensinya nyata dan terasa di laut, bukan hanya di ruang konferensi pers. Risiko penahanan membuat kapal lebih hati hati mendekati pelabuhan Venezuela. Premi asuransi dan biaya keamanan naik. Pembeli meminta diskon lebih dalam untuk menutup risiko. Bagi PDVSA, setiap gangguan berarti ekspor makin mahal dan pilihan rute makin sempit. Bagi AS, ini pesan bahwa penegakan sanksi bisa ikut berlayar bersama tanker.
Satu kapal memang terlihat kecil di peta dunia. Tetapi di bisnis energi, satu penyitaan bisa membuat puluhan kapal lain mendadak “sakit perut” dan memilih putar balik. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.









