Skip to main content

Rencana damai Ukraina versi 28 poin yang dikaitkan dengan Donald Trump membuat Eropa terbelah dan menyalakan kembali perdebatan sengit tentang cara mengakhiri perang. Bagi banyak pejabat dan tokoh Ukraina, rencana damai Ukraina ini justru terlihat seperti paket kemenangan politik untuk Rusia yang dibungkus sebagai kompromi diplomatik.

Isi rancangan 28 poin itu dipahami berputar pada gagasan penghentian perang dengan imbalan konsesi besar dari pihak Ukraina. Garis depan dibekukan. Sebagian wilayah yang sudah dikuasai Rusia di timur dianggap selesai diperdebatkan. Kapasitas militer Ukraina dibatasi. Posisi Ukraina terhadap NATO dibuat menggantung di luar pintu. Di atas kertas tampak seperti formula pragmatis. Di mata banyak pejabat di Kyiv dan Eropa Timur, ini terasa lebih mirip pembenaran terhadap hasil agresi bersenjata.

Tokoh Ukraina yang mengkritik rencana tersebut menilai posisi tawar Kyiv akan runtuh begitu rencana itu diberi cap sah sebagai dasar negosiasi. Rusia tetap memegang keuntungan teritorial. Ukraina diminta percaya pada janji jaminan keamanan dan dukungan rekonstruksi yang belum tentu tiba dengan skala yang dijanjikan. Sejumlah analis di Eropa mengingatkan bahwa jika benua ini menerima formula seperti itu, pesan yang dikirim ke dunia sangat jelas. Negara yang kuat boleh mengubah perbatasan dengan tank lalu menutup bab dengan selembar kertas perdamaian.

Perdebatan ini sekaligus menjadi ujian apakah Eropa memilih kenyamanan jangka pendek atau konsistensi prinsip dalam jangka panjang. Jika lelah perang mengalahkan nalar strategis, benua yang pernah bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan abad lalu berisiko mengulang pola yang sama dalam versi baru. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply