Wamenkeu Juda Agung langsung menaruh satu target besar sejak hari pertama, ia mau fiskal dan moneter bicara dengan nada yang sama. Ia menyebut mandat itu datang dari Presiden Prabowo Subianto, lalu ia menilai sinergi yang rapat akan membantu mengejar pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas makro. Ia menempatkan koordinasi itu sebagai modal kerja, bukan sekadar jargon rapat koordinasi.
Juda datang ke Kementerian Keuangan dengan bekal pengalaman dari Bank Indonesia, tetapi ia tidak menganggap perpindahan itu sebagai lompatan kosong. Ia menyebut perpindahan kantor dari kawasan Thamrin ke Lapangan Banteng sebagai pengalaman baru, tetapi ia merasa orang orangnya sudah familiar. Ia mengaku sering berdiskusi dengan jajaran eselon I dan II Kemenkeu, sehingga ia yakin bisa cepat beradaptasi. Ia juga menilai kebijakan fiskal akan lebih presisi jika komunikasi dengan otoritas moneter berjalan rapi, terutama saat pasar sensitif pada inflasi, kurs, dan arus modal.
Juda menyampaikan pesan itu dalam konferensi pers di kantor Kemenkeu pada Kamis, 5 Februari 2026. Ia berkata, “koordinasi dan sinergi antara fiskal dan moneter Insyaallah akan semakin baik dan erat.” Pernyataan itu penting karena arah belanja negara, penerimaan, dan pembiayaan selalu bersinggungan dengan kebijakan suku bunga dan likuiditas. Jika koordinasi longgar, pelaku pasar biasanya membaca ada dua setir dalam satu mobil, lalu biaya ketidakpastian ikut naik.
Presiden Prabowo melantik Juda sebagai wakil menteri keuangan untuk sisa masa jabatan kabinet periode 2024 sampai 2029 melalui Keputusan Presiden Nomor 3/M/2026. Juda menggantikan Thomas Djiwandono yang mengundurkan diri setelah ia terpilih sebagai deputi gubernur Bank Indonesia. Publik sekarang menunggu bukti konkret, bukan sekadar janji rapi di podium. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.









