Pasar Asia melemah pada Senin, 19 Januari 2026, setelah Tarif tambahan yang diancamkan Presiden Donald Trump ke negara negara Eropa mengerek kembali risiko perang dagang. Trump mengaitkan ancaman itu dengan tuntutan akses Amerika Serikat untuk membeli Greenland. Investor memindahkan dana ke aset aman seperti yen, franc Swiss, dan emas.
Perdagangan berjalan sepi karena pasar Amerika Serikat libur, tetapi arah sentimen tetap menurun. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,7% dan Nasdaq turun 1,0%. Kontrak berjangka Eropa ikut merosot, sehingga EUROSTOXX 50 turun 1,1% dan DAX turun 1,1%. Di Asia, Nikkei turun 1,0%, sementara MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,1%.
Trump menyatakan rencana tarif tambahan 10% mulai 1 Februari untuk impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Trump juga menyatakan tarif dapat naik menjadi 25% pada 1 Juni jika pihak terkait tidak mencapai kesepakatan. Sejumlah negara besar Uni Eropa mengecam ancaman itu dan Prancis mendorong opsi balasan ekonomi yang jarang dipakai. Uni Eropa mempertimbangkan paket tarif balasan atas impor Amerika Serikat senilai 93 miliar euro yang sempat ditangguhkan, serta pemakaian Anti Coercion Instrument yang dapat menargetkan jasa atau investasi Amerika Serikat. Analis Deutsche Bank menilai kepemilikan aset keuangan Amerika Serikat oleh Eropa sangat besar, dengan perkiraan sekitar 8 triliun dolar AS pada obligasi dan ekuitas. “Tekanan lewat arus modal bisa lebih mengganggu pasar daripada arus perdagangan,” kata George Saravelos.
Permintaan aset aman mendorong emas dan perak menyentuh rekor tertinggi, dengan emas naik 1,5% ke 4.664 dolar AS per ons. Harga minyak melemah karena pasar mengkhawatirkan dampak perang dagang pada pertumbuhan global, sehingga Brent turun 0,5% ke 63,84 dolar AS per barel dan WTI turun 0,4% ke 59,18 dolar AS per barel. Dolar turun 0,2% terhadap franc Swiss ke 0,7995 dan turun 0,3% terhadap yen ke 157,70, sementara euro menguat tipis ke 1,1613 dan pound naik ke 1,3387. Pasar juga menunggu PDB China kuartal Desember, rapat Bank of Japan pada Jumat, rilis data inflasi inti serta konsumsi Amerika Serikat pada Kamis, dan musim laporan kinerja emiten besar seperti Netflix, Johnson and Johnson, General Electric, dan Intel. Dunia investasi kembali menonton pola lama. Satu ancaman Tarif bisa mengubah arah uang sebelum kebijakan benar benar berjalan. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.









