Quickcommerce bikin belanja terasa seperti sulap. Orang menekan satu tombol, lalu barang datang seolah dunia selalu lengang dan roda selalu mulus. Padahal Quickcommerce bekerja dengan logika yang sederhana dan agak kejam. Semakin cepat paket sampai, semakin besar tekanan yang jatuh ke orang yang mengantarnya.
Di layar, konsumen cuma melihat titik motor bergerak di peta. Di jalan, kurir menukar bensin, jam tidur, dan tenaga buat menghemat belasan ribu rupiah di sisi pelanggan. Sistem ikut memuja kecepatan sebagai standar tunggal. Keterlambatan 10 menit saja bisa memicu amarah, lalu algoritma mengubah amarah itu menjadi target yang makin rapat.
Video itu menaruh angka yang bikin industri ini terlihat seperti perang. Sekitar 88% konsumen bersedia bayar lebih untuk pengantaran di hari yang sama. Sekitar 55% orang membatalkan keranjang karena opsi kirim dianggap lambat. Sekitar 39% pindah ke kompetitor demi waktu kirim lebih cepat, dan sekitar 96% menganggap kecepatan sebagai faktor kunci. Pada level pekerja, algoritma membagi tugas, memantau pergerakan, lalu menghukum lewat suspensi ketika rating jatuh di bawah ambang tertentu, misalnya 4,5 dari 5.
Masalahnya bukan cuma capek. Masalahnya ada desain kerja yang rapi. Perusahaan menyebut kurir sebagai “mitra”, lalu perusahaan memindahkan biaya bensin, perawatan kendaraan, dan risiko kecelakaan ke individu. Video itu juga merangkum suasananya dengan kalimat yang dingin: “Semakin cepat sebuah barang sampai, maka semakin rendah pula nilai kemanusiaan bagi mereka yang membawanya.” Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.









