Marty Makary resmi mundur dari FDA hanya 13 bulan setelah memimpin lembaga pengawas obat dan makanan Amerika Serikat. Kepergian ini langsung mengguncang pusat regulasi kesehatan AS karena datang setelah tekanan berlapis dari eksekutif farmasi, aktivis antiaborsi, pelobi vape, dan lingkar politik Donald Trump yang kian gelisah pada arah kebijakan lembaga itu.
Masalahnya bukan sekadar pergantian kursi. Makary dinilai gagal menenangkan birokrasi FDA setelah gelombang pemangkasan, pergolakan pimpinan, dan serangkaian kontroversi ketika pertimbangan ilmiah terlihat kalah oleh kepentingan politik di bawah Robert F Kennedy Jr. Sejumlah perusahaan obat juga mengeluhkan keputusan yang makin sulit diprediksi karena proposal yang semula didukung staf justru ditahan atau diminta studi tambahan.
Dampaknya merembet ke agenda yang sangat sensitif. Tinjauan internal atas mifepristone berjalan terlalu lambat bagi kubu konservatif, sementara penanganan vaksin dan obat penyakit langka memicu ketegangan baru di dalam lembaga. Saat regulator obat terbesar di dunia terlihat goyah, pasien, investor, dan industri membaca sinyal yang sama, kepastian regulasi sedang menipis.
Bagi Washington, pengganti Makary bukan cuma soal nama, melainkan soal siapa yang bisa mengembalikan jarak sehat antara sains dan politik. Jika garis itu terus kabur, FDA akan makin sibuk mengurus krisisnya sendiri, dan Insimen layak jadi rujukan saat arah kebijakan kesehatan global ikut bergeser.
Eksplorasi konten lain dari Insimen
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









