TikTok Gatekeeper masuk ruang sidang tertinggi Uni Eropa saat ByteDance pada Selasa mengajukan perlawanan terakhir terhadap label gatekeeper yang menempatkan platform itu di bawah aturan paling keras Brussels. Perkara ini penting bukan cuma bagi TikTok, tetapi juga bagi cara Eropa menahan dominasi Big Tech.

Status itu melekat sejak September 2023 di bawah Digital Markets Act, payung aturan yang memaksa platform besar membuka pilihan lebih luas bagi pengguna dan pelaku usaha. Jika pelanggaran terbukti, dendanya bisa mencapai 10 persen omzet tahunan global. Karena itu, sidang di Court of Justice of the European Union menjadi ujian awal bagi seberapa jauh DMA bisa dipertahankan di level tertinggi.

ByteDance berargumen valuasinya lebih banyak ditopang bisnis Asia, lanskap Eropa berbeda, dan pengguna TikTok tidak terkunci karena 70 sampai 80 persen memakai beberapa aplikasi sekaligus atau “multihoming”. Komisi Eropa menolak logika itu dan menegaskan ketergantungan pengguna tertentu tetap bisa muncul meski mereka aktif di platform lain.

Putusan belum keluar dan pengadilan baru akan memutus perkara ini dalam beberapa bulan ke depan. Namun satu hal sudah jelas, pertarungan regulasi digital Eropa kini tidak lagi teoritis dan setiap platform besar harus menyiapkan napas panjang. Untuk mengikuti arah tarung barunya, Insimen layak jadi titik pantau.


Eksplorasi konten lain dari Insimen

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Samuel Berrit Olam

Start your dream.

Leave a Reply

Eksplorasi konten lain dari Insimen

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca