YouTube mencetak pendapatan lebih dari 60 miliar dolar pada 2025, saat Google terang terangan menggeser fokus dari sekadar iklan ke langganan berbayar. Angka itu mencakup pemasukan iklan dan uang dari layanan berlangganan, lalu secara bersamaan menempatkan YouTube di atas Netflix yang membukukan 45 miliar dolar.

Yang menarik, Google jarang membuka angka tahunan YouTube secara gamblang sejak akuisisi pada 2006. Sekarang angkanya keluar saat strategi monetisasi makin rapat. Paket YouTube Premium terus didorong sebagai jalan cepat untuk menambah pelanggan, sekaligus memaksa pengguna memilih. Tonton gratis dengan iklan, atau bayar supaya pengalaman menonton terasa lebih mulus. Beberapa fitur, seperti pemutaran di latar belakang pada ponsel, juga makin jelas diposisikan sebagai hak khusus pelanggan.

Advertisements

Di sisi iklan, performanya tidak selalu mulus. Pendapatan iklan global YouTube pada tiga bulan terakhir 2025 berada di 11,38 miliar dolar, dan angka itu tidak memenuhi ekspektasi pasar. Namun manajemen Google menutup tahun dengan narasi yang lebih besar. Sundar Pichai menyebut 2025 sebagai tahun yang fantastis, dan total pelanggan berbayar di layanan konsumen Google menembus 325 juta, meski angka pelanggan khusus YouTube tetap tidak dibuka. Sementara itu Shorts menembus rata rata lebih dari 200 miliar penayangan per hari, yang membuat format video pendek resmi naik kelas dari sekadar pelengkap.

Pertarungan ini juga mengubah wajah industri kreator. YouTube menaruh harapan besar pada kreator, tetapi gelombang AI ikut bikin gaduh karena ringkasan pencarian berbasis AI dinilai bisa mengurangi trafik ke konten. Di tengah semua itu, kalimat Ted Sarandos terdengar seperti penanda era baru: “YouTube is TV.” Dunia hiburan sedang bergeser, dan yang dulu dianggap selingan kini justru jadi panggung utama. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini bisa ditemukan di Insimen untuk perspektif yang lebih tajam.

Leave a Reply